Menguak Kecerdasan Ulama Salaf

Tafsir ath-Thabari merupakan salah satu kitab tafsir yang utuh 30 juz dan dibukukan, bahkan beberapa kalangan menilainya sebagai pelopor kitab tafsir yang lengkap. Di balik kehebatan dan kejeniusan ath-Thabari, beberapa ulama memberikan kesaksian bahwa ath-Thabari merupakan seorang yang sangat wara dan zuhud. Dalam tulisan Tajuddin as-Subki, disebutkan bahwa ath-Thabari merupakan ulama pentolan dalam hal wara, zuhud, menghindari segala keharaman, dan jauh dari perkara-perkara syubhat.

Di samping itu, ia tidak lepas dari peran orangtua yang sangat memperhatikan pendidikan bagi putranya tersebut. Sejak kecil, ath-Thabari digembleng langsung oleh orangtuanya yang merupakan ulama dan diajari Al-Qur’an, bahkan diarahkan untuk menghafalnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selain itu, ath-Thabari juga merupakan pribadi yang sangat memperhatikan pola makan. Ia bukan orang yang banyak makan atau mengonsumsi sembarang jenis makanan. Dalam salah satu riwayat, disebutkan bahwa ia tidak makan lemak atau daging yang banyak lemaknya. Tetapi, hanya makan daging merah murni yang ia masak dengan campuran kismis (zabib). Ia juga menjauhi wijen dan sarang lebah (hlm. 19).

Demikian pula ulama di bidang hadis, Imam al-Bukhari. Kehebatan dan kejeniusannya diakui oleh ulama dari setiap generasi, dan karyanya diterima oleh mayoritas ulama sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Bahkan, Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa seandainya jika pujian ulama-ulama kepada Imam al-Bukhari yang hidup pada masa setelahnya dibuat suatu bab khusus, maka semua kertas akan habis, begitu juga napas, karena ia adalah lautan yang tak bertepi.

Kehebatan dan kejeniusan Imam al-Bukhari tidak tiba-tiba ia peroleh begitu saja. Imam al-Bukhari merupakan anak seorang ulama, sehingga dari kecil ia sudah berada di lingkungan yang agamis. Ibunya yang salihah mengantarkan Imam al-Bukhari banyak hal dasar dalam hidup dan beragama. Imam al-Bukhari mendatangi beberapa daerah untuk menemui para Syekh dalam bidang hadis. Ia pergi ke daerah Balkh, Naisabur, Ray, Baghdad, Basrah, Kufah, Madinah, Makkah, Wasith, Damaskus, Asqalan, dan Homs.

Selain sangat haus kepada ilmu dan tekun dalam belajar, Imam al-Bukhari juga diketahui sebagai sosok yang wara dan khusyuk dalam ibadah. Ia menghindari beberapa jenis makanan yang dapat menyebabkan bau tak sedap, seperti bawang dan bawang prei. Alasan ketidaksukaan Imam al-Bukhari kepada beberapa bahan makanan yang berbau menyengat itu karena ia menjaga perasaan orang lain, ia tidak ingin membuat orang di sekitarnya risih (hlm. 57).

Dengan ini, tradisi dan riyadah para ulama salaf perlu kita tiru dan hidupkan kembali di tengah-tengah masyarakat yang mulai disibukkan dengan duniawi. Hal ini selaras dengan harapan penulis dalam pengantarnya. Bahwa melalui buku ini ia berharap pembahasan tentang kehebatan para ulama salaf tidak berhenti pada hasil, tetapi juga memperhatikan upaya dan riyadah yang telah mereka lalui. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa meniru, bahkan lebih merasakan nikmatnya mengikuti kebiasaan para ulama salaf.

Tinggalkan Balasan