Kiai yang punya ikatan trah bani Kholil akan dengan mudah mendapatkan legitimasi demikian ketimbang mereka yang outliers (katakanlah: perintis dalam dunia usaha). Namun, tak dapat disangkal, luas atau sempit pengaruhnya, para kiai (guru moral) mendapatkan tempat khusus di masyarakat. Terlebih, bentuk sosial masyarakat Madura yang lebih bercorak kultur agama (lebih tepatnya pesantren).
Meskipun, kadang, dengan eksistensinya yang diakui itu, terdapat kecenderungan kiai untuk mempolitisasi kedudukannya demi kepentingan pribadi (baik politik dan ekonomi).

Di satu sisi, upaya melanggengkan hegemoni juga dilakukan oleh para blater dengan cara yang berbeda. Blater disebut layak mendapatkan legitimasi keblateran ketika telah malang-melintang dalam dunia kriminalitas atau dunia kelam. Melakukan tindakan di luar kebiasaan orang normal (seperti berjudi, bermain wanita, mencuri, carok dalam arti yang telah tergeser) adalah cara blater mendapatkan kehormatan dan pengakuan. Tradisi-tradisi keblateran, seperti acara remoh, juga ikut menjadi sumber pengaruhnya.
Para blater menjadi disegani. Namun, blater yang dimaksud dalam hal ini adalah yang saya sebutkan di atas; mereka yang punya banyak afiliasi dengan blater lain, memiliki track record keblateran yang mumpuni, dan lebih-lebih disokong oleh keadaan ekonomi di atas rata-rata. Sedangkan blater kecil, yang hanya aktif dalam dunia kelam namun tak memiliki privillage tersebut, hanya dianggap sebagai sampah masyarakat.
Seringkali, kiai dan blater berada dalam hubungan yang tegang sebab latar belakang mereka yang berbeda. Beberapa kiai bahkan secara tegas menolak dan mengharamkan tradisi-tradisi keblateran itu. Ketegangan kadang juga diperparah oleh keinginan keduanya dalam memperebutkan pengaruh di masyarakat.
Namun, ini salah satu yang menurut saya menarik dari penelitian dalam buku ini. Kiai dan blater tak jarang juga menjalin relasi. Relasi-relasi yang ada mungkin saja lebih kompleks, namun setidaknya ada dua pola relasi yang saya pahami setelah membaca buku ini.
Pertama, relasi kepentingan. Dua contoh telah dijelaskan dalam buku ini untuk menggambarkan bagaimana relasi tersebut terjalin. Dalam konteks politik, para kiai yang sedang berada dalam kontestasi (Pilkada misalkan) selalu melibatkan blater untuk melanggengkan kekuasaan dan memperoleh kemenangan. Ada semacam relasi patron-client. Para blater yang berada di kubu kiai dan mendukungnya adalah mereka yang telah mendapatkan irisan kue proyek dan sub-kekuasaan (jika terpilih).
