Mengungkap Relasi Kiai dan Blater di Madura

Dengan pola yang sama (politik) namun dengan lingkup yang lebih kecil, buku ini juga menyuguhkan sebuah contoh di mana perebutan wilayah kekuasaan yang terjadi di madrasah; antarkiai juga melibatkan pengaruh blater di dalamnya.

Kedua, relasi etik. Ini adalah kabar baik, bahwa relasi yang terjalin antara kiai dan blater tak selalu berkonotasi negatif. Beberapa kiai, seperti Kiai Turmudzi yang dicontohkan di dalamnya, menjalin keakraban dengan blater untuk urusan kemanusiaan. Blater dirangkul agar tercapainya maslahah dalam bermasyarakat dan pergaulan, tanpa embel-embel kepentingan pribadi apalagi kekuasaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ini seharusnya yang dikerjakan oleh kiai. Sebagai pengayom masyarakat, yang perlu menjadi prioritas adalah menanamkan moral dan pendidikan. Kenyataannya sekarang justru terbalik. Kiai-kiai bersikukuh melanggengkan kekuasaan, politik, dan ekonomi pribadi. Terlebih, menggunakan kekuatan blater untuk memuluskan kepentingannya.

Terakhir, buku ini sangat bagus dikonsumsi (dibaca) oleh semua kalangan. Tujuannya adalah agar persepsi tentang tradisi keblateran di Madura berikut kekerasannya tidak menjadi anggapan tunggal. Sebab, ada hegemoni atau pengaruh dominasi kiai yang juga besar.

Selain itu, agar kita lebih memahami bagaimana kiai dan blater mendapatkan posisi di masyarakat, bagaimana mereka mendapatkan legitimasi, lalu menjalin relasi. Wallahu a’lam…

Data Buku:

Penulis: Abdur Rozaki
Judul: Menabur Karisma Menuai Kuasa
Penerbit: IRCiSoD
Tahun Terbit: 2021
Tebal: 200 halaman
ISBN: 978-623-6166-56-7

Tinggalkan Balasan