Menilik Manuver Mazhab Islamis di 2024

Terakhir, kelompok yang barangkali tidak asing di telinga kita, yakni fundamentalis. Meski dinilai sulit menentukan titik diferensial antara mazhab formalis dengan fundamentalis, tetapi saya mencoba untuk menguraikan. Barisan terakhir ini dalam ranah praksisnya kemungkinan lebih ketat dan reaksioner. Utamanya tatkala berada di barisan oposan dari pemerintah yang berkuasa.

Akhirnya, tiga mazhab tersebut cukup mewarnai pentas. Bertolak dari titik inilah, kita bisa membaca bagaimana peluang kelompok Islamis, baik formalis maupun fundamentalis—yang di tahun 2019 cukup agresif—pada gelanganggang 2024 nanti.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika hendak mengintip spion, kita mafhum salah satu pentolan dari kelompok Islamis ini adalah Prabowo Subianto. Gemuruh dukungan kelompok Islamis pada Prabowo-Sandi waktu itu memang cukup kuat. Bahkan, awal tahun 2021 elektabilitas Prabowo masih belum bisa digoyang. Baru pada pertengahan tahun lalu elektabilitasnya dikudeta oleh Ganjar Pranowo, sebagaimana laporan Charta Politika. Kendati tak lama sesudah itu elektabilitasnya kembali melejit hingga bulan Agustus.

Semula kita membaca bahwa peluang gerakan kelompok Islamis hanya mungkin ketika Prabowo masuk gelanggang. Hal tersebut diklaim sebagai usaha meneruskan hajat yang pada Pemilu sebelumnya justru dikandaskan pasangan Jokowi-Ma’ruf. Kalau ternyata opsi tersebut justru tidak terealisasi, kemungkinan besar kubu Anies Baswedan yang kelimpahan angin segar. Ini dipahami dari peta tahun-tahun yang telah lewat bahwa pendukung Anies, utamnya yang Islamis, berada di saf yang sama dengan pendukung Prabowo. Kementakan alternatif ini diperkokoh oleh realita elektabilitas Prabowo yang belakangan melemah.

Tinggalkan Balasan