Menjadi Ikhlas Menurut al-Ghazali

Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa salah satu yang mempengaruhi keikhlasan adalah dorongan dari hawa nafsu. Apabila kekuatan dorongan keagamaan sama kuat dengan kekuatan dorongan nafsu, maka keduanya gugur dan amal tersebut tidak menghasilkan pahala dan tidak mengakibatkan dosa. Akan tetapi, apabila kekuatan dorongannya riya atau hal lain yang lebih kuat maka amal itu tidak berguna, justru berbahaya dan bisa mendapat hukuman.

Ketiga, tipu daya iblis. Seseorang yang sudah tertanam dan mengakar sikap ikhlas dalam dirinya niscaya tidak akan sanggup ditembus pertahanan imannya oleh iblis. Hal ini pun diakui oleh iblis sebagaimana terdapat pada Q.S. Al-Hijr: 39-40,

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَإقَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Artinya: Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.”

Ayat tersebut merupakan penggalan kisah Nabi Adam AS dan pembangkangan pertama yang dilakukan oleh iblis terhadap Allah. Mereka adalah hamba Allah yang membangkang, durhaka, ingkar, sombong, dan terkutuk yang diberi umur panjang, karena permintaan mereka hingga mendekati hari kiamat. Mereka ingin menyesatkan semua umat manusia untuk diajak ke neraka dengan bujuk rayu. Maka, berdasarkan ayat tersebut, hanya orang-orang yang ikhlas dan dapat mengendalikan nafsunya yang tidak akan dapat digoda oleh iblis dan sekutunya.

Keempat, ketenangan batin. Apabila seseorang beraktivitas dengan khlas dan khusyuk hanya karena Allah, maka dalam kondisi apa pun akan tercermin ketenangan dan kejernihan baik dari sikap, wajahnya, maupun hatinya.

Begitulah orang yang telah mencapai level ikhlas.

Tinggalkan Balasan