“Aku bertanya kepada Jibril AS tentang ikhlas, apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata, “Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya?” Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjawab, “Suatu rahasia dari rahasia-Ku yang aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai”. (HR. Al-Qazwini, riwayat dari Hudzaifah).
Kemudian, dari Ummah ra mengatakan, bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan kemudian bertanya, “Apakah pendapat Tuan tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala dan popularitas diri, dan kelak apa yang akan dia peroleh?” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa!” Pertanyaan yang sama diulang sebanyak tiga kali, namun jawaban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tetap sama, “Dia tidak menerima apa-apa!” Lalu Nabi bersabda yang artinya; Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan hanya mengharap rida dari Allah.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i).

Dengan demikian, hakikat ikhlas adalah mendekatkan diri kepada Allah dari segala bentuk ketidakmurnian. Maksud ketidakmurniaan adalah segala niatan yang tidak ditujukan kepada Allah, semisal niat karena ingin dipuji orang lain, atau niat ingin mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Seseorang, jika ia meniatkan segala sesuatu dengan hanya satu niat selain Allah, maka bisa disebut ikhlas tetapi bukan ikhlas karena Allah taala semata.
Berdasarkan uraian mengenai bab ikhlas dari Kitab Ihya Ulumuddin karangan al-Ghazali (Qalami, 2003), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keikhlasan seseorang. Pertama, pengetahuan. Keikhlasan akan sangat mudah diucapkan tetapi sukar untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, karena banyak yang harus diperangi, terutama memerangi kebutaan ilmu. Dengan kata lain, ikhlas tidak akan terwujud dengan minimnya pemahaman dan pengetahuan tentang hakikat ikhlas itu sendiri.
Kedua, nafsu. Hawa nafsu adalah salah satu potensi yang ada dalam diri manusia yang cenderung untuk mengajak mausia pada kesenangan badaniah, pemuasan syahwat, dan keinginan keinginan rendah lainnya. Sebagimana diterangkan Allah dalam Q.S. Yusuf:53
۞ وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”
