Minilik sejarah panjang perjuangan santri melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan, relasi santri dan nasionalisme cukup erat. Santri punya tanggungjawab merawat kebhinekaan dari rong-rongan ideologi khilafah yang menyasar generasi milenial potensial. Gerakan tersebut menyusup ke bilik-bilik pendidikan formal, lembaga perkantoran, hingga pintu-pintu media digital.
Nasionalisme bukan perkara mengusir pejajah atau lantang menyanyikan lagu Indonesia Raya, masih ada pekerjaan bersama (santri) untuk konsisten membendung konfrontasi bernarasi simbol-simbol agama. Pembenturan keyakinan yang ditopang gairah politik identitas. Menyerang masyarakat yang jauh dari pemahaman agama untuk didoktrin soal paham takfirisme.

Seperti pesan banyak kiai di media digital, bahwa sudah saatnya santri berperan menunjukan eksistensinya “memerdekakan Indonesia” dari penjajahan ideologi, tren berbusana, hingga fanatisme brutal mengubah dasar negara. Santri potensial diharapkan banyak muncul di ruang-ruang publik memberikan pemahaman mengenai literatur tafsir untuk melawan narasi radikalisme. Indonesia baru akan merdeka kalau semua elemen masyarakat punya perasaan kecintaan yang sama terhadap bangsa dan tanah air.
Santri nasionalis harus tampil eksis di berbagai ruang. Data menunjukan kekuatan santri di Indonesia yang punya potensi besar menjadi garda terdepan menjaga keutuhan NKRI. Tidak harus berdebat atau adu argumen mengenai pemahaman atas keyakinan beragama, sebab banyak metode yang bisa dilakukan santri untuk berbakti terhadap negeri. Sudah banyak santri yang punya kapabilitas diskusi ilmiah mengenai tafsir mengenai mazhab, politik Islam, hingga sejarah.
