Menjadi Santri Tajir Melintir

“Sederhana itu tidak harus miskin,” demikian Dede Ibrahim menulis di buku ini (hal. 1). Karena Nabi SAW pada umur 25 tahun sudah menjadi pedagang dengan cara ikut pamannya. Lebih dari itu, Nabi juga menjadi pengembala dan dari hasil gembalanya Nabi mendapat finansial yang cukup banyak. Apalagi ketika Nabi Muhammad saw menikahi Siti Khadijah, maka kekayaan Nabi begitu melimpah. Tetapi, karakter Nabi yang sederhana tidak menyebabkan harta kekayaannya menjadi berlaku hidup mewah. Justru setiap harta yang dimiliki digunakan untuk kepentingan dakwah, bukan untuk kemewahan pribadi.

Selanjutnya, Dede Ibrahim mencatat Robert T. Koyosaki, seorang investor, pengusaha, penulis, pernah berkata, “Masa depanmu ditentukan oleh apa yang kamu lakukan hari ini, bukan besok,” (hal. 6). Hal ini dimaksudkan bahwa untuk melakukan sesuatu kebaikan harus segera dilakukan. Begitu juga untuk meraih kekayaan, harus dilakukan dengan segera. Tidak perlu menunggu waktu yang tepat. Karena setiap saat adalah kebaikan dan ketepatan yang harus segera direalisasikan. Tidak perlu menunggu “hari baik” dan sebagainya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Mengapa santri harus kaya?” (hal. 7) adalah salah satu kalimat retorik yang disampaikan oleh Dede Ibrahim. Ali bin Abi Thalib berkata, “Seandainya kemiskinan itu menjelma menjadi manusia, maka aku yang akan membunuhnya.” Sahabat Nabi saja sangat benci dengan kemiskinan, maka sebagai santri juga seharusnya mampu mencampakkan “penyakit” ini.

Ada banyak alasan mengapa santri harus menjadi kaya. Misalnya, supaya santri tidak selalu bergantung kepada orang tua. Mampu membantu orang lain, terhindar dari mental miskin, tidak bermental pengemis, dan lain sebagainya. Lepas dari kemiskinan akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap pola kelola kehidupan. Karena setiap hal dalam kebaikan (ibadah), selalu bersinergi dengan kekayaan.

Dede Ibrahim juga menjelaskan terkait dengan exellen (perbedaan). “Kun mutakhallifan fa yu’rafu, jadilah Kamu berbeda, maka kamu akan dikenal,” (hal. 11). Tentu saja perbedaan yang dimaksud adalah dalam kebaikan. Bukan suatu perbedaan yang akan meninggalkan kontroversi dan perseteruan. Memang, setiap perbedaan akan dikenal dan menjadi viral. Namun, terkenal dalam hal yang negatif akan membawa keburukan. Jadi yang dimaksud dengan mutakhallaf (perbedaan) di sini adalah perbedaan yang membawa kemaslahatan.

Tinggalkan Balasan