Dari hadis Ibnu ‘Abbas ra., beliau berkata: aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
من صوَّرَ صورةً في الدُّنيا كلِّفَ يومَ القيامةِ أن ينفخَ فيها الرُّوحَ ، وليسَ بنافخٍ

“Barang siapa yang di dunia pernah menggambar gambar (bernyawa), ia akan dituntut untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut di hari kiamat, dan ia tidak akan bisa melakukannya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan hadis dari ‘Aisyah ra., ia berkata:
قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم من سفر وقد سترت سهوة لي بقرام فيه تماثيل، فلما رآه رسول الله صلى الله عليه وسلم تلون وجهه، وقال: “يا عائشة، أشد الناس عذاباً عند الله يوم القيامة الذين يضاهئون بخلق الله”، فقطعناه فجعلنا منه وسادة أو وسادتين
“Rasulullah Saw. pulang dari safar. Ketika itu aku menutup jendela rumah dengan gorden yang bergambar (makhluk bernyawa). Ketika melihatnya, wajah Rasulullah berubah. Beliau bersabda: “Wahai Aisyah orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah yang menandingin ciptaan Allah“. Lalu aku memotong-motongnya dan menjadikannya satu atau dua bantal” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, hukum wayang menjadi boleh (mubah) seiring restorasi bentuk wayang berupa sketsa-sketsa yang pertama kali dilakukan oleh Sunan Kalijaga karena kebutuhan metode dakwah dalam proses islamisasi di bumi nusantara. Sejak restorasi wayang pada masa itu, ulama memberikan suatu pembolehan karena sesuai dengan hadits nabi “ ballighu ‘anni walau aayah” (sampaikan dariku walaupun satu ayat) dengan pendekatan kultural yang sangat jauh dari kekerasan.
