Menjaga Etika Publik di Ruang Publik

Hal ini terjadi akibat didekonstruksinya nilai-nilai yang mapan dan dibiarkannya nilai-nilai tersebut mengambang, tanpa ada resolusi (indeterminasi). Selain itu, dalam fenomena ini juga menunjukkan adanya pergeseran makna yang sedang terjadi dalam proses komunikasi di ruang publik baru ini. Seolah, para pengguna media sosial hanyut pada mekanisme medianya sendiri, dibandingkan dengan makna komunikasi itu sendiri.

Pergeseran Makna dan Tujuan

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Untuk memahami fenomena komunikasi pada konten meme dengan foto Ibu Iriana yang berpose dengan Kim Keon Hee ini, dengan kode tambahan narasi dialog sehingga menuai respons dan kecaman publik, perlu mempertimbangkan keberadaan ruang publik baru yang tercipta dengan lebih interaktif dan memiliki ruang kebebasan untuk berekspresi, sehingga melahirkan berbagai persoalan baru yang muncul dari proses komunikasi yang ditampilkan.

Yasraf Amir Piliang (2001) dalam sebuah karyanya berjudul Posmodernisme dan Ekstasi Komunikasi, pernah menyebutkan bentuk-bentuk komuniasi di dalam perkembangan masyarakat postmodern. Menurutnya, perkembangan komunikasi ini telah memunculkan berbagai persoalan etimologis maupun epistemologis mengenai definisi, sistem, dan makna dari komunikasi itu sendiri.

Maka, dapat dipahami bahwa fenomena dalam persoalan komunikasi yang dijalankan dalam ruang publik baru ini menunjukkan bagaimana prosesnya yang telah mengabaikan persoalan nilai (etis, moral, spiritual), memperkuat pemahaman bahwa sedang terjadi pergeseran makna komunikasi itu sendiri dalam kausu cuitan ini.

Keberadaan ruang publik baru hanyalah dimanfaatkan sebagai tindakan untuk merayakan kebebasan saja, sehingga laku komunikasi yang ditampilkan dianggap lebih penting ketimbang makna komunikasi itu sendiri. Sementara, media sosial sebagai medium komunikasi dianggap lebih penting dibandingkan dari isi komunikasi (content), dan permainan tanda komunikasi yang ditampilkan pada platform media sosial lebih penting dibandingkan dengan makna dan tujuan dari komunikasi.

Fondasi-fondasi nilai, baik secara etis, moral, maupun spiritual seharusnya menopang terhadap bangunan komunikasi yang dijalankan dalam ruang publik baru ini. Sehingga berbagai konvensi, tanda, kode, nilai, dan bahasa yang seharusnya dipilih untuk membangun komunikasi tidak lagi dibiarkan di dalam kondisi yang acak, tumpang tindih makna di dalamnya.

Mengingat, model komunikasi dalam ruang publik baru ini menggunakan logika kecepatan, sehingga memungkinkan seorang pengguna akan dapat terperangkap di dalam arus kecepatan komunikasi yang di dalamnya. Di sana terdapat mekanisme teknologi kecepatan itu sendiri. Seperti yang pernah disebut oleh McLuhan sebagai medium is the message. Artinya, setiap orang hanyut di dalam mekanisme teknologi media komunikasi itu sendiri, sehingga menjauhkan mereka dari kedalaman makna komunikasi.

Tinggalkan Balasan