Menjamu Kematian

Beberapa saat kemudian pemilik toko itu kembali lagi menemui Delina dengan membawa dua jersey berwarna merah dan putih bernomor punggung 5 dan 13 berukuran M.

“Maaf Nyonya, yang tersisa hanya dua warna. Untuk warna krem stoknya sudah habis,” ucap pemilik toko itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Tidak masalah Tuan,” jawab Delina. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia melirik jam dinding yang terpampang di toko, sudah menunjukkan pukul dua siang.

“Maaf Tuan, apakah di sini menyediakan tempat bagi muslim untuk melaksanakan salat?” tanyanya.

“Tentu saja ada Nyonya. Silakan, Nyonya berjalan ke belakang, lalu belok kanan. Nanti, Nyonya akan mendapati sebuah ruangan kecil di sana. Saya sendiri adalah imigran dari Afrika yang menetap di New York beberapa tahun yang lalu. Kebetulan saya juga seorang muslim.”

“Komunitas muslim di kota ini sudah agak memiliki kebebasan, meskipun kepolisian New York dan badan penegak hukum lainnya masih menaruh kecurigaan terhadap kita,” sambung pemilik toko itu.

“Benar Tuan, semenjak tragedi serangan 11 September 2001 beberapa tahun yang lalu, sepertinya masyarakat mayoritas masih diliputi kecemasan dan kecurigaan terhadap kita,” ucap Delina

“Saya beruntung sekali bisa bertemu dengan Tuan. Saya permisi dulu,” sambungnya. Ia pamit dan langsung menuju tempat salat.

***

Setelah beberapa waktu berselang, Delina sudah kembali ke ruangan depan di toko. Pemilik toko menemuinya kembali.

“Terima kasih Tuan sudah mengizinkan saya untuk salat di tempat Tuan,” ucap Delina

“Sama-sama Nyonya. Sesama muslim harus saling membantu. Saling mendukung satu sama lain. Hidup di negara minoritas memang tidak mudah Nyonya. Apalagi, Nyonya sebagai wanita berhijab tentu akan sulit beradaptasi dengan lingkungan sekuler seperti ini. Kita harus saling menguatkan,” jawab pemilik toko itu tersenyum menjereng gigi, berkulit gelap.

“O, ya Nyonya, kalau Nyonya butuh makanan halal, saya juga punya restoran yang menyediakan makanan-makanan halal yang tidak jauh dari tokoh ini,” sambungnya pemilik toko  itu.

“Baik Tuan. Saya Delina, baru beberapa bulan pindah ke sini, ikut suami. Oh ya, apa boleh saya mengetahui nama Tuan?” tanya Delina.

“Nyonya bisa panggil saya dengan nama Ibrahim,” kata pemilik toko.

Tinggalkan Balasan