Setelah berkenalan dengan pemilik toko, ia segara undur diri, karena ia harus segera ke rumah sakit untuk menemui anaknya di rumah sakit. Kebetulan suaminya yang menemani anaknya selama Delina di rumah. Biasanya mereka bergantian untuk menemani putranya. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung ke ruangan anaknya dirawat.
Pintu berderit pelan. Delina membuka pintu. Matanya penuh sendu melihat sesosok tubuh rapuh tergolek tak berdaya. Kepala plontos bekas jahitan dengan tubuh yang semakin kurus ringkih membuat perasaannya semakin miris.

Mata putranya masih saja terpejam. Napasnya tersengal tak beraturan. Mesin pacu jantung berbunyi. Suara denting jam dinding berbunyi mengalun menyusuri waktu.
Delina duduk di sebelah kiri pembaringan putranya didampingi suami tercinta. Ia memberi sentuhan pada tangan putranya, mencoba memberikan energi doa dan harapan.
“Sabar. Ini cobaan yang mesti kita lalui.” Suaminya mencoba menenangkan. Kemudian menggenggam tangannya.
Karena masih teringat dengan mimpinya beberapa waktu yang lalu, Delina tampak masih belum bisa tenang. Tidur pun tak nyenyak, gara-gara memikirkan itu, seolah-olah bayangan itu selalu menggelayut di pikirannya. Jika ia bangun tidur hatinya terasa gelisah.
Ia mencoba untuk berkomunikasi dengan putranya yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Selang oksigen masih tetap menempel di hidungnya. Tanpa bergerak sedikit pun. Putranya seperti mayat hidup, tergolek seperti seonggok benda mati yang menjadi penghuni di ranjang pesakitan. Alih-alih menghilangkan ingatan-ingatan tentang mimpinya itu, setiap melihat anaknya, selalu terbesit bahwa umur putranya tak lama lagi.
“Bangun Nak, kita akan menyongsong liburan musim dingin ini dengan menyenangkan. Ibu juga sudah membelikan jersey Atlanta Braves, kesukaanmu. Kita akan berkunjung di restoran pemilik toko peralatan baseball yang ramah itu. Apakah kau suka dengan hal itu?” ucapnya sambil menitikkan air mata. Sementara putranya hanya diam tanpa respons, matanya terpejam. Sudah lama, putranya terbaring di ranjang pesakitan. Tumornya semakin ganas.
Delina tertidur di sampingnya. Ia bermimpi, putranya dikejar akar pohon yang menjuntai panjang, dan ia berlari untuk menghindari lilitannya. Putranya berusaha keras berlari kencang. Ia sendiri tak bisa menolongnya. Tubuhnya seperti diikat. Putranya terus berlari, meminta tolong, namun tak ada yang bisa memberikan bantuan.
Seketika Delina terbangun dari mimpi buruknya. Ia melirik jam dinding— sudah tengah malam. Sementara, suaminya tidur di sofa. Kedua tangannya mengusap wajahnya dan menarik napas panjang.
“Sudah dua kali, aku mimpi buruk,” gumamnya.
Kemudian ia membuka jendela yang tertutup gorden berwarna kuning kecokelatan. Dari lantai 3, ia melihat kumpulan lampu kota begitu indah. Ia mencoba untuk mengatur perasaannya. Mengalir air dari bola matanya. Perasaannya tak karuan.
Sementara putranya tampak tergolek, pucat. Tubuhnya bergetar. Napasnya tersengal. Kejang-kejang, seperti sedang memberontak untuk mempertahankan nyawanya yang akan segera dicabut.
Sementara itu, Delina dan suaminya yang mengetahui hal itu, langsung memanggil suster untuk segera dilakukan penanganan. Suster segera memanggil dokter dan menyiapkan peralatan medis. Delina tampak cemas.
Dalam kekhawatiran, suaminya terus memanjatkan doa. Ia terus menggenggam kedua tangannya, memejamkan matanya. Sementara itu, Delina semakin cemas melihat anaknya yang menggeliat-geliat. Sesaat kemudian setelah putranya dinyatakan meninggal, Delina menangis tersedu-sedu dan menatap suaminya dengan perasaan yang janggal.
