Sultan Nuku.
Masa kejayaan Kesultanan Tidore mulai bangkit lagi pada awal abad ke-19 di era kepemimpinan Sultan Nuku. Pada era ini, wilayah Kesultanan Tidore berhasil diperluas sampai ke Papua Barat, Kepulauan Kei, Kepualauan Aru bahkan, sampai ke Kepualauan Pasifik. Selain itu, Sultan Nuku juga berhasil menyatukan Ternate dan Tidore untuk menghadapi pemerintah kolonial Belanda yang dibantu oleh Inggris. Keberhasilan mengusir bangsa asing membuat Kesultanan Tidore mencapai kemajuan yang pesat.

Selain kisah tentang jalur rempah dan perjuangan mempertahankan kekuasaan dari campur tangan bangsa Eropa, jejak sejarah Maluku juga menunjukkan adanya nilai-nilai moderasi dan toleransi beragama.
Tersebutlah dua pendeta asal Jerman; Carl William dan Goltlob Geisller (Ottow dan Geisller) yang akan melaksanakan misi zending di kawasan timur Nusantara. Pada 1854, kedua pendeta ini mendarat di Ternate untuk mendalami bahasa Melayu dan budaya masyarakat yang ada di sana. Atas kedatangan kedua misionaris ini, Sultan memberikan izin bagi mereka bahkan memberikan perintah kepada kepala suku untuk melindungi dan menolong mereka jika kekurangan makanan.

Kapal pengantar misionaris dari Tidore ke Papua.
Tak hanya itu, ketika kedua misionaris ini akan melaksanakan misi zending ke kawasan Papua, Sultan Tidore menyediakan kapal layar dan dua orang pengawal untuk mengantar mereka berlayar menuju Papua. Atas bantuan kapal dari Sultan Tidore, kedua misionaris ini berhasil mendarat di Pulau Mansinam, Manukwari (Tanah Papua) pada 5 Februari 1885. Sejak saat itu tanggal 5 Februari ditetapkan sebagai hari pekabaran Injil oleh masyarakat Kristiani Papua.
Jasa Sultan Tidore ini selalu diingat oleh umat Kristiani Papua. Frans Maniagasi (2017) pernah menyatakan: orang Papua tidak boleh lupa terhadap kontribusi Sultan Tidore yang telah memberikan kapal layarnya sebagai “alat” untuk kemajuan orang Papua dan peradabannya.
Dari kedua kesultanan ini terbangun nilai-nilai toleransi dan moderasi, spirit berjuang menjelajah alam, patriotisme, nasionalisme, dan membangun jiwa tangguh menebar kebaikan untuk mewujudkan Islam rahmatan lil’alamin. Keindahan alam, jejak sejarah, keragaman budaya adalah potensi yang dapat dijadikan modal membangun peradaban untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maluku Utara dan bangsa Indonesia.
