Jejak sejarah Maluku Utara merupakan sumber yang melimpah yang menarik untuk bahan penelitian akademik, terutama yang terkait dengan rempah dan jalur rempah. Beberapa lembaga yang melakukan kajian secara intens mengenai jalur rempah adalah Kementrian Pendidikan dan Kebudayan. Hasil penelitian Kemendikbud ini ditulis Bondan Kanumoyoso dan Djoko Marihandono dan diterbitkan menjadi buku Rempah, Jakur Rempah, dan Dinamika Masyarakat Nusantara.
Peneliti lain yang menulis rempah Maluku adalah John Villiers (1986), Manila and Maluku: Trade and Warfare in the Eastern Archipelago 1580-1640; Stone, B.G. (1964) The Spice Trade; dan Kal Muller, (1990) Spice Islands: The Moluccas. Kemasyhuran rempah-rempah Maluku banyak disebut dalam buku-buku sejarah, seperti Anthony Reid (1999), Dari Ekspansi Hingga Krisis: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680; G.A. Ohorella (Ed) (1977): Ternate Sebagai Bandar di Jaur Sutra; Willard, A. Hanna, dan Des Alwi (1996) Ternate dan Tidore: Masa Lalu Penuh Gejolak; dan lain-lain. Semua hasil penelitian ini cukup membuktikan nilai strategis Maluku dan rempah-rempahnya dalam kajian akademik.


Saat ini mulai tumbuh kesadaran di kalangan masyarakat Maluku untuk bangkit dan mengembangkan berbagai potensi sosial-budaya dan ekonomi yang ada. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai event budaya di Maluku Utara, mulai yang berskala lokal sampai internasional. Juga tumbuhnya kajian mengenai Maluku yang dilakukan oleh para peneliti dan akademisi Maluku. Semangat ini juga ditangkap dengan baik oleh pemerintah daerah Maluku yang kemudian direspons dengan penetapan Sofifi sebagai Kawasan Khusus.
