Menyalakan Kembali Api Pancasila dari Akar Budaya Nusantara

Bondan menelusuri bagaimana Zastrouw menghadirkan kembali nilai-nilai itu dari berbagai daerah: semangat kolektivitas masyarakat Sunda di Jawa Barat, keseimbangan kosmik Tri Hita Karana di Bali, solidaritas sosial di Nusa Tenggara Timur, dan religiositas yang berpadu dengan kemanusiaan di Jawa Tengah. Semua menunjukkan bahwa Pancasila berakar pada kesadaran budaya yang hidup.

Dialog Lintas Tradisi dan Agama

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam tanggapannya, Ngatawi Al-Zastrouw menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan hasil dari perjalanan intelektual sekaligus spiritual menelusuri nilai-nilai kebangsaan di berbagai daerah.

“Kebangsaan Indonesia dibangun bukan dari keseragaman, melainkan dari perjumpaan antarmanusia, antartradisi, dan antariman,” ujarnya.

Ia menambahkan, revitalisasi Pancasila seharusnya dimulai dari kebudayaan, bukan semata dari kebijakan politik. “Kalau kesadaran kultural hilang, Pancasila akan kehilangan ruhnya. Ia hanya tinggal simbol tanpa makna,” tegasnya.

Melihat ke Selatan

Pandangan lain datang dari akademisi dan esais Darmawati Majid, yang mengajak peserta melihat Pancasila “dari selatan” — metafora bagi akar kehidupan rakyat. Dalam pembacaannya, nilai-nilai kebangsaan sesungguhnya tumbuh dari bawah, dari masyarakat yang mempraktikkan gotong royong, kejujuran, dan solidaritas dalam keseharian.

Ia menyoroti nilai-nilai budaya Bugis-Makassar yang mencerminkan sila kedua dan keempat Pancasila. Sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghormati), dan sipakainge (saling mengingatkan) menjadi dasar etika sosial yang kuat. Tradisi tudang sipulung — duduk bersama untuk bermusyawarah — menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia sejatinya lahir dari budaya, bukan dari teori Barat.

Tinggalkan Balasan