“Nilai-nilai ini membuktikan bahwa Pancasila bukan sekadar produk politik. Ia hidup dalam etika sosial yang dijalani masyarakat selama berabad-abad,” ujarnya.
Pancasila di Era Digital

Dalam diskusi, para pembicara juga menyinggung tantangan Pancasila di tengah era digital. Media sosial, yang semestinya menjadi ruang baru kebersamaan, justru sering menjadi arena polarisasi.
Menurut Darmawati, nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, kejujuran, dan toleransi harus diterjemahkan ke dalam etika digital. “Solidaritas tidak berhenti di dunia nyata. Ia harus hadir juga di ruang maya,” katanya.
Zastrouw menambahkan, “Pancasila tidak boleh hanya menjadi materi pelajaran, tetapi harus menjadi cara berpikir — baik di dunia nyata maupun di ruang digital.”
Api yang Menyala dari Rakyat
Sementara itu, Ngatawi Al-Zastrouw, penulis buku Menggali Api Pancasila dengan menyampaikan bahwa: “Pancasila bukan milik negara semata, melainkan milik rakyat — hidup di ladang, di rumah, dan di napas kebudayaan.”
Kalimat itu menjadi gema penutup sore di Makara Art Center. Bagi para peserta, Semaan Puisi dan Haul Sastrawan 2025 kali ini tidak hanya menjadi forum refleksi intelektual, tetapi juga ruang perenungan tentang kebangsaan sebagai laku kebudayaan.
