Di era digital ini, berita menyebar dalam hitungan detik. Jika tak hati-hati, media bisa ikut memperkeruh suasana. Sebaliknya, jika berpihak pada kebenaran dan keberagaman, media bisa jadi alat penting untuk membangun empati dan pengertian antarumat.
Dan yang tak kalah penting: pendidikan. Kita tidak bisa menunggu generasi baru tumbuh tanpa dibekali nilai-nilai toleransi. Sekolah seharusnya bukan hanya tempat belajar angka dan huruf, tapi juga tempat belajar menghargai perbedaan. Tanpa itu, siklus intoleransi akan terus berulang.

Kita harus ingat: Indonesia tidak dibangun oleh satu golongan. Negeri ini berdiri karena kesepakatan banyak perbedaan. Maka merusak rumah ibadah bukan hanya merusak bangunan fisik, tapi menghancurkan semangat kebangsaan yang menjadi fondasi kita bersama.
Toleransi bukan kemewahan. Ia adalah syarat utama hidup damai dalam masyarakat majemuk. Dan jika kita gagal menjaganya, maka kita sedang membiarkan rumah besar bernama Indonesia retak sedikit demi sedikit—hingga suatu hari bisa runtuh tanpa peringatan.
