Dalih yang dipakai seringkali teknis: soal izin, administrasi, dan prosedur. Tapi publik tahu, akar masalahnya lebih dalam. Ada ketidaksukaan yang tumbuh karena perbedaan. Ada rasa curiga yang dibentuk dari narasi-narasi keagamaan yang salah arah. Bahkan, tidak jarang, sentimen ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk tujuan politik.
Jika dibiarkan, kasus seperti ini bisa menjadi api yang menyebar. Membakar kepercayaan antarumat. Mengikis rasa aman kelompok minoritas. Dan perlahan-lahan, menghancurkan persatuan yang selama ini kita rawat dengan susah payah.

Pemerintah tak bisa tinggal diam. Penegakan hukum harus adil dan tanpa tebang pilih. Tidak cukup hanya menangkap pelaku lapangan, tapi juga menyelidiki siapa yang menyulut api kebencian. Negara harus berdiri di tengah, melindungi semua warganya—tanpa melihat jumlah atau keyakinan.
Namun, tanggung jawab menjaga toleransi tidak hanya di tangan negara. Tokoh agama, misalnya, memegang peran sentral. Ceramah dan khutbah mereka bisa menenangkan, tapi bisa juga menyulut. Maka mereka harus sadar, bahwa tiap kata yang keluar dari mimbar bisa berdampak luas. Mereka seharusnya menjadi penyejuk, bukan pemantik konflik.
Media Tak Boleh Lepas Tangan
