Menyegarkan Kembali Nalar Sehat Beragama

Karenanya, habib dalam tilikan saat ini menjadikan dirinya mudah diterima, punya posisi terhormat dan dimuliakan di masyarakat. Tak ayal, ia juga langsung mendapat otoritas keagamaan, intelektual, dan kesalehan tanpa melacak rekam jejak kehidupan serta background pendidikan keagamaan. Dengan keyakinan penuh bahwa habib adalah gelar prestisius sekaligus entitas agung, sebagian masyarakat menanggalkan fitur-fitur rasio akal dan mempertajam antusias fanatisme terhadap identitas tersebut.

Habib berpenetrasi menjadi entitas paling laku dikonsumsi publik. Ia rujukan paling efektif dalam mengkapitalisasi pelbagai kepentingan, termasuk meraup otoritas kepemimpinan sosial kemasyarakatan. Masyarakat secara halus diberi narasi untuk taat mengikuti serta meneladani segala tutur kata dan tindak laku, hingga pada akhirnya masuk pada poros kepentingannya. Pemberian bumbu-bumbu dogmatis membuat masyarakat semakin terlena, terbius, dan terobsesi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bagaimana Memandang Identitas?

Satu hal yang pasti, adalah persepsi kita mengenai agama (Islam) jangan sampai menggiring pada lubang kesalahan/kebodohan. Cara yang mesti dilakukan, yakni akal harus difungsikan serta diaktivasi. Ini mutlak, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, “afala ta’qilun? afala tatafakkarun? afala yatadabbarun?” Islam terus menerus menganjurkan dan mendorong umatnya untuk selalu berpikir dan memikirkan terhadap segalasesuatu, apapun, termasuk dalam konteks ini berpikir menjernihkan perkara identitas.

Dari gestur yang diperlihatkan masyarakat, memunculkan penaksiran identitas Arab —habib memiliki keistimewaan “lebih mulia” dalam strata sosial kemasyarakatan. Buktinya, sebagian masyarakat mendominankan identitas Arab —habib dibanding identitas pribumi meski sama-sama bertendensi religiusitas tinggi, berilmu (alim), berakhlak dan budi pekerti luhur. Torehan keistimewaan identitas Arab —habib tersebut tentu sangat mengganjal dan memantik pertautan di mana rahmat-Nya (keagungan Islam) telah berubah, mengalami degradasi etis dan menyalahi prinsip Islam.

Kita diajarkan, setiap personal –apapun suku, etnis, rasnya– sejatinya berkedudukan setara, tidak ada yang lebih unggul maupun utama. Menakar suatu keunggulan atau keutamaan hanya bisa dilihat dari ketakwaannya. Allah berfirman dalam QS. al-Hujurat: 13 “…sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa…”.

Tinggalkan Balasan