Ibnu ‘Aṭāillah as-Sakandarī, dalam Kitab al-Ḥikam yang penuh hikmah, menyampaikan:
“أصل كل معصية وغفلة وشهوة الرضا عن النفس، وأصل كل طاعة ويقظة وعفة عدم الرضا منك عنها.”

Artinya: “Asal dari semua maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah merasa puas terhadap diri sendiri. Dan asal dari semua ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah tidak puas terhadap diri sendiri.”
Makna ini menunjukkan bahwa kesadaran tidak akan tumbuh dari orang yang merasa cukup dan puas dengan dirinya sendiri. Justru, kesadaran lahir dari kerendahan hati dan pencarian yang tulus.
Imam al-Ghazālī, seorang pemikir besar Islam, menyatakan dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn:
“اليقظة بداية السير إلى الله، وهي انشراح القلب لرؤية النعمة، وانتباه القلب من رقدة الغفلة.”
Artinya: “Kesadaran (yaqzhah) adalah awal perjalanan menuju Allah, yakni terbukanya hati karena melihat nikmat dan terbangunnya hati dari tidur kelalaian.”
Kesadaran adalah cahaya awal yang membuka jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan. Tanpa cahaya ini, seseorang hanya akan berjalan dalam gelap, meskipun banyak pengetahuan di kepalanya.
Menariknya, Islam dan Buddhisme memiliki kesamaan dalam menanggapi persoalan hidup yang berulang dan penuh penderitaan. Dalam Buddhisme, penderitaan bersumber dari keterikatan dan nafsu keinginan. Reinkarnasi adalah hasil dari belum sempurnanya kesadaran. Tujuan spiritualnya adalah nirwana, yaitu padamnya nafsu dan terputusnya siklus kelahiran ulang.
