Demikianlah, jika dakwah didasarkan pada semangat membersamai, bukan menegasi, apalagi membenci, maka hasilnya akan bernapas panjang.
Ketiga, di bagian akhir buku ini, Anwar Kurniawan bercerita model dakwah Gus Dur. Ulama kharismatik yang dikenal nyeleneh ini setiap haulnya selalu ora umum. Gus Dur meninggal di pengujung Desember 2009, tetapi peringatan wafatnya bisa sambung-menyambung, tidak peduli tanggal berapa dan bersamaan dengan momentum apa.

Bahkan, yang memperingati haulnya bukan pihak keluarga besarnya saja, namun juga mereka dari lintas agama, lintas kelompok sosial, lintas generasi, lintas etnis, dan lintas lainnya. Hal ini menunjukkan betapa sosok Gus Dur laksana magnet yang mampu menarik massa, kendati telah wafat.
Gus Dur, bahkan, ketika menjabat sebagai presiden, tidak pernah melakukan pemaksaan-pemaksaan yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Bahkan, menyikapi impeachment terhadap dirinya saja, ia tetap santai, alih-alih mempertahankan kekuasaan dengan pertumpahan darah.
“Lha, wong saya maju aja didorong, masa disuruh mundur,” begitu guyon Gus Dur (halaman 171).
Dan pada masa pemerintahan Gus Dur, umat Konghucu kembali dilegalkan untuk mengekspresikan keyakinannya. Hal ini Gus Dur lakukan, sebab ia memandang dan menyikapi manusia dengan kacamata manusia. Inilah yang barangkali menjadi alasan mengapa sosok Gus Dur sampai kiwari ini tetap mendapat tempat di hati sanubari semua penganut agama dan semua golongan.
DATA BUKU
