Menyingkap Kabut Kebenaran dalam Dunia Digital

Salah satu contoh menarik yang ia angkat adalah peristiwa pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016. Dalam kasus ini, semakin sering media meliput Donald Trump—terlepas dari kebenaran atau kebohongan yang disampaikan—semakin besar pula panggung dan pengaruh yang ia dapatkan. Ini menciptakan paradoks: kebohongan yang terus-menerus disuarakan justru memperkuat posisi politiknya.

Tak berhenti di situ, Rofiq juga membahas mengenai problem moral digital yang muncul sebagai akibat dari era post truth. Mulai dari klaim moral, cyberbullying, fanatisme, hingga subversi digital. Problem ini muncul akibat tidak adanya objektivitas data. Apa yang menjadi kebenaran—meski direkayasa—menjadi pijakan dalam menghakimi orang lain dan melegitimasi sebuah penilaian subjektif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari sini Rofiq lalu menghubungkan persoalan ini dengan moral error theory yang digagas oleh filsuf John L. Mackie. Dalam pandangan Mackie, moralitas sendiri tidaklah bersifat objektif, melainkan subjektif. Tidak ada nilai moral yang inheren atau objektif di luar kontruksi manusia. Hal ini disebabkan nilai-nilai moral merupakan kontruksi manusia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti budaya, agama, dan kondisi sosial. Dengan demikian, pandangan moral akan selalu bervariasi antarindividu dan kelompok.

Dalam kaitannya dengan permasalahan di dunia digital, pemikiran Mackie sebagai filsuf yang terkenal dengan teori relativitas moral menjadi semakin kuat. Tidak ada standar etika yang jelas, khususnya dalam penggunaan media sosial. Di tengah lautan konten digital, klaim moralitas muncul sebagai salah satu subjek yang paling rentan terpapar oleh bias, opini pribadi, dan kepentingan kelompok.

Dengan tebal yang cukup ringkas, hanya 81 halaman, buku ini menyuguhkan pemikiran yang kritis, padat, dan relevan dengan tantangan zaman. Penyampaiannya yang sistematis dan berbasis pada contoh konkret menjadikannya mudah diikuti, meskipun pembaca mungkin perlu sedikit latar belakang dalam kajian media, filsafat moral, atau etika informasi untuk menangkap nuansa-nuansa argumen yang ditawarkan.

Tinggalkan Balasan