Dengan sebab yang tidak dapat ditolak ini, bah informasi menggenangi kepala kita. Kita sedang diterjang banjir bandang informasi, Iqbal menyebut demikian. Dengan kemampuan filter informasi yang masih sangat minim, berita bohong bukan lagi hal yang naif dan langka. Artinya, kridibelitas sebuah informasi yang sejujurnya bisa dipertanyakan pada era ini mulai tidak ada yang memerhatikan. Tidak peduli apakah itu berita bohong, provokatif, dan lain semacam. Selama hal tersebut berada di layar gawai kita, maka ditelan mentah-mentah oleh sebagian besar umat manusia.
Di tengah limbah informasi tersebut, penulis coba menyentil intelektual tanah air yang masih berada di menara gading. Bagi Iqbal, kuran afdal jika intelektual yang sudah matang dan kompeten di satu bidang keilmuan hanya memintarkan orang-orang pintar. Maksudnya, yang hanya sudi menulis di jurnal ilmiah dan cuma diakses oleh orang yang sederajat denga mereka. Padahal, masyarakat awam secara faktual juga butuh dicerahkan. Masyarakat yang dipandang sebelah mata ini juga butuh membaca hasil penelitian mereka dengan penyampaian yang sederhana, tanpa bahasa yang mengernyitkan kening.

Selama ini pamor intelektual tanah air sering berkisar pada publikasi di jurnal ilmiah. Beberapa orang yang mengaku intelektual justru enggan menyentuh medium-medium potensial yang bisa diakses banyak orang. Padahal di medium inilah kementakan orang bawah membaca dengan cermat dan khidmat gagasan mereka. Berbeda dengan jurnal yang hanya dibaca oleh segelintir orang, mentok-menotok 10 orang. Perihal angkat 10 orang ini merupakan hasil pengamatan dari Asit Biswas dan Julian Kirchherr. Nama pertama merupakan professor dari National University of Singapore, sedang yang peneliti terakhir di University of Oxford.
Barangkali atas dasar inilah, penulis terpantik dan tebersit di dalam hatinya untuk melihat potensi dari media sosial. Media sosial memang diklaim mampu menggunting jarak antara seorang profesor dengan seorang pengangguran. Di media sosial juga, gagasan-gagasan para raksasa intelektual harusnya bisa dinikmati oleh orang yang sepantasnya mendapat itu. Bukan ujug-ujug dan hanya atas nama gengsi intelektual sehingga tidak mau mengisi ruang yang terbuka itu. Dalam bahasa penulis, ikut nyebur tetapi tidak harus ikut arus.
Di dunia yang serba terhubung ini dengan koneksi yang tidak putus hanya karena jarak, juga terdapat semacam pergeseran orientasi dari lelaku yang pada dasarnya hanya aktivitas biasa. Iqbal mencoba menguraikan bagaimana hal tersebut terjadi lagi-lagi demi hasrat yang pada titik hakikinya semu. Ambil contoh membaca buku yang pada zaman pradigital merupakan aktivitas untuk memeras otak dan mengendorkan saraf-saraf yang tegang. Jauh panggang dari api, jika kita melihat hal tersebut hari ini, detik ini. Membaca buku tidak hanya sebuah aktivitas biasa yang dilakukan oleh sebagian besar umat manusia. Orientasinya berubah menjadi ajang pertunjukan yang berujung pada hasrat untuk dipuji banyak orang(hlm. 76).
