Fenomena semacam ini merupakan dampak dari tren kesalehan yang semakin terlihat di ruang publik. Kita lihat bagaimana hijab menjadi fashion, kajian menjadi gaya hidup, bahkan zikir bersama di kafe atau hotel kini marak. Dalam hal ini, spiritualitas tidak hanya menjadi praktik keimanan, tapi juga identitas sosial dan tidak jarang menjelma sebagai simbol status.
Namun, tidak semua bentuk ekspresi religius harus dicurigai sebagai bentuk komodifikasi. Yang patut digarisbawahi ialah saat ekspresi itu kehilangan empati sosial dan menjadi dominasi simbolik. Di sinilah peran penting pendidikan agama yang menekankan etika sosial, bukan hanya ritual individual.

Islam Ramah vs Islam Ramai
Indonesia telah lama dikenal dengan wajah Islam yang ramah, bukan yang ramai. Ramah dalam arti menghargai konteks, menjaga adab, dan tahu kapan harus diam. Dalam konteks Bukit Klangon, keramaian spiritual yang menyita perhatian di tengah malam justru menyentil batas itu.
Pengalaman saya menyaksikan kelompok “tahajud berjamaah” di perbukitan ini menjadi bahan refleksi mendalam. Apakah mereka sadar bahwa tindakan mereka menyita ruang kontemplatif orang lain? Apakah ada niatan menampilkan simbol religius secara demonstratif? Atau mungkin, ini hanya bentuk kesalehan yang jujur, hanya saja tidak sensitif terhadap ruang dan waktu?
Kesalehan yang Membumi
Akhirnya, pengalaman di Klangon ini membuka diskusi panjang soal bagaimana kita memahami dan mempraktikkan agama pada dewasa ini. Bukan soal benar atau salah, tapi soal bijak atau tidak. Apakah kesalehan kita membumi, atau justru membumbung tanpa arah?
Agama yang baik, seperti ditulis oleh para pemikir progresif Islam, adalah yang menyejukkan dan menyentuh hati, bukan yang mengejutkan dan mendominasi suasana. Bukit Klangon dan perbukitan lain akan terus menjadi tempat orang mencari Tuhan dalam hening maupun tawa. Tugas kita sebagai pejalan, juga sebagai orang beriman, adalah menjaga harmoni di antara keduanya.
