Menyoal Kurikulum Merdeka di SMK Berbasis Pesantren

Jawabannya tentu harus ada pengondisian dengan adanya sebuah program yang memang dijalankan khusus untuk memerdekakan siswa atau santri dalam mengakses informasi. Misalnya saja, adanya penyewaan lab komputer pada jam-jam kosong dari kegiatan sekolah ataupun pesantren. Sebab, kita tahu bahwa jam operasional lab komputer dan perpustakaan kebanyakan sama dengan jam operasional sekolah. Mungkin beberapa pesantren memiliki perpustakaan di asrama, namun saya pesimis koleksinya menyangkut pembelajaran sekolah, justru kebanyakan koleksinya adalah literasi agama dan sejenisnya.

Kedua, pendidikan vokasi pada jenjang SMK tidak lagi cukup hanya dengan mengasah keterampilan dasar dalam bidang teknik, akan tetapi juga pada bidang teknologi informasi (TI) dan komputasi. Saya ambil contoh, teknik kendaraan ringan dan otomotif. Siswa jurusan TKRO tidak cukup dibekali dengan keterampilan bagaimana memperbaiki atau menyervis mesin mobil. Tapi, lebih dari itu, ia juga harus memiliki keterampilan mengolah data, sehingga nantinya siswa tidak berhenti sebagai tukang servis yang dalam pandangan saya, levelnya masih pekerja kasar. Bukan berarti saya meremehkan profesi tukang servis atau mekanik atau juga montir, akan tetapi, di masa depan, sepertinya profesi mekanik juga akan lebih banyak menggunakan perangkat canggih yang saya yakini ada proses pengolahan data di situ. Satu kata yang menarik untuk mewakili hal ini, yaitu Mekatronika (Mekanika, Elektronika, dan Informatika).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sembari menyonsong revolusi industri 4.0 yang kabarnya juga sedang beranjak menuju versi 5.0, pendidikan vokasi harus lebih jeli lagi meneropong masa depan. Apa yang dilakukan kepala sekolah saya sebenarnya sudah benar, akan tetapi hal itu tidak cukup untuk mempersiapkan segalanya menghadapi tantangan global. Dengan semangat sampai kapan Indonesia tertinggal dari bangsa lain, maka pelaku dalam dunia pendidikan sudah harus memikirkan hal ini dari sekarang. Terlebih lagi SMK berbasis pesantren.

Semangat pendidikan vokasi di SMK berbasis pesantren untuk mencetak generasi yang terampil di bidang teknik sekaligus berakhlak mulia harus benar-benar seiring sejalan dengan penguasaan dan pemahaman terhadap perkembangan teknologi. Jangan sampai SMK berbasis pesantren hanya mencetak generasi yang serba nanggung. Nanggung di bidang teknik, dan lebih parahnya nanggung juga dalam pemahaman ajaran agama Islam. Tentu itu adalah sebuah kegagalan yang tidak main-main.

Tolok ukurnya sebenarnya sederhana, yaitu bagaimana siswa berhasil menjadi profesional di sebuah bidang tanpa meninggalkan ke-santri-annya.

Tinggalkan Balasan