Sebagai santri yang belajar agama sekaligus hidup dalam masyarakat yang beragam, kita perlu menyadari bahwa kata-kata memiliki pengaruh. Tuturan dapat menguatkan seseorang, tetapi juga dapat melukai. Kritik dapat menjadi jalan perbaikan, tetapi penghinaan justru dapat memperlebar jarak.
Menjaga bahasa bukan berarti dilarang berbeda pendapat. Kita tetap dapat menyampaikan kritik, mempertanyakan kebijakan, dan membicarakan persoalan bangsa.

Namun, semuanya perlu dilakukan dengan alasan yang jelas, informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta cara penyampaian yang menghormati martabat manusia. Di sinilah semangat Sumpah Pemuda bertemu dengan adab yang dipelajari di pesantren. Keduanya mengingatkan bahwa menyampaikan kebenaran dan menjaga persaudaraan seharusnya tidak dipertentangkan. Kita dapat bersikap tegas tanpa merendahkan, berbeda tanpa memusuhi, serta mengoreksi tanpa kehilangan rasa hormat.
Sumpah yang Harus Dihidupkan
Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali mengingat keberanian para pemuda yang menyatukan tekad di tengah perbedaan. Akan tetapi, penghormatan terbaik kepada mereka tidak cukup dilakukan dengan mengulang sejarah. Kita perlu membawa semangat itu ke dalam tindakan sehari-hari.
Bagi santri, hal tersebut dapat dimulai dari kesungguhan menuntut ilmu, menjaga adab kepada guru dan sesama, membangun kerja sama, serta menggunakan pengetahuan untuk membantu masyarakat. Bagi pemuda Indonesia secara lebih luas, semangat itu dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, keberanian menyampaikan gagasan, sikap kritis terhadap informasi, dan kesediaan bekerja bersama melampaui perbedaan.
Kita memang tidak hidup pada zaman ketika Sumpah Pemuda pertama kali diikrarkan. Namun, kita hidup pada zaman yang tetap membutuhkan persatuan, keberanian, dan tanggung jawab generasi muda. Sumpah itu tidak berhenti ketika acara peringatan selesai. Ia hidup ketika kita memilih untuk tidak merendahkan, ketika kita tetap bekerja sama meskipun berbeda, dan ketika ilmu yang kita miliki tidak hanya berguna bagi diri sendiri. Sebab, pemuda bukan sekadar sebutan bagi mereka yang sedang berada pada usia muda. Pemuda juga merupakan harapan yang harus dibuktikan melalui tindakan.
Dan bagi santri, mengabdi kepada agama tidak perlu menjauhkan diri dari tanggung jawab kebangsaan. Keduanya dapat berjalan bersama melalui ilmu, akhlak, dan kepedulian.
