Merayakan yang Seperti Puisi

Bukan perayaan biasa. Itulah yang terjadi pada Minggu (12/7/2026) malam di Kedai Kopi danTaman Baca Kebun Makna. Sebab, di sanalah Agus R Sarjono mengenalkan buku puisi terbarunya, Seperti Puisi.

Kedai Kopi di bilangan Ngeluwar, Magelang, Jawa Tengah, itu penuh dengan pengunjung. Sastrawan Rekki Zakkia, sang pengelola Kebun Makna, mengabarkan kepada para tetamunya: apresiasi dan diskusi buku Seperti Puisi dimulai.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/
Agus R Sarjono, Hasta Indriana, dan Jamal D Rahman.

Di barisan meja-meja tetamu terlihat ada nama-nama sastrawan sohor, di antaranya Agus R Sarjono, Jamal D Rahman, Joni Ariadinata, Mustafa W Hasyim, Agus Manaji, Hasta Indriana, dan Wicahyanti Rejeki. Rekki mengawali acara dengan membaca puisi karyanya.

Rekki Zakkia.

Diskusi memang diawali dan diakhiri dengan pembacaan dan musikalisasi puisi sebagai bentuk apresiasi terhadap tiap karya cipta manusia. Termasuk, ketika Sanggar Soko Papat menafsirkan puisi Agus R Sarjono dalam drama pendek.

Diskusi buku puisi itu menampilkan penulisnya, Agus R Sarjono, dan sastrawan Jamal D Rahman. Sebagai moderator, penyair Hasta Indriana justru mengawali diskusi dengan teka-teki.

“Tiap penyair hebat memiliki rahasianya sendiri. Contoh, Agus R Sarjono. Er-nya itu apa, sampai sekarang tidak ada yang tahu. Dan saya juga tak ingin tahu. Juga, Jamal D Rahman. De-nya itu apa, sampai sekarang juga tak ada yang tahu. Saya juga tak ingin tahu. Nah, mumpung orangnya ada di sini, silakan teman-teman nanti tanyakan sendiri. Geerrrr,” ujar Hasta, disambut tawa tetamu.

Setelah secara singkat Agus R Sarjono mengisahkan latar penerbitan buku puisinya, akhirnya Kang Jamal, sapaan akrab Jamal D Rahman, menjawab teka-teki itu.

“Sebelum kita mendiskusikan bukunya, saya jawab dulu soal rahasia itu. ‘R’ dalam nama Agus R Sarjono itu artinya ‘rahasia’,” kata Kang Jamal disambut gelak tawa tetamu. “Sementara, ‘D’ dalam nama Jamal D Rahman, artinya ‘dirahasiakan’,” sambungnya dengan ekspresi datar, sementara tawa tetamu makin deras.

Begitulah suasana jenaka yang menghiasi perayaan buku Seperti Puisi. Meskipun, pada akhirnya, Kang Jamal membedah buku puisi karya Agus R Sarjono dengan sangat serius. Jamal memotret, selama ini ada dua jalan yang ditempuh para penyair Indonesia modern untuk mengekspresikan cinta. Jalan pertama dirintis Amis Hamzah. Sementara, jalan kedua ditempuh Chairil Anwar.

“Di jalur mana ekspresi cinta dari puisi Agus R Sarjono, nanti akan kita lihat,” ujar Kang Jamal.

Jika dibaca dari seluruh puisi-puisinya, menurut penyair asal Madura ini, Amir Hamzah menempuh “jalan sublimasi”. Artinya, tema-tema cinta dalam puisi Amir Hamzah adalah sublimasi di antara dua domain yang berbeda.

“Cinta terhadap manusia tersublimasi hingga seakan-akan sebagai ekspresi cinta terhadap Ilahi. Dan bisa sebaliknya. Sehingga, ada ambiguitas ketika kita membaca puisi bertema cinta dari Amir Hamzah,” urai Kang Jamal.

Sementara, jalur yang berbeda ditempuh Chairil Anwar. Si “binatang jalang” itu, menurut Kang Jamal, memasang demarkasi yang tebal di antara tema-tema puisinya. Tema cinta manusia, cinta Tuhan, dan revolusi sosial diberi garis pembeda yang jelas, dan masing-masing sebagai entitas yang otonom.

“Chairil, saat menulis puisi tentang cinta, diekspresikan dengan jelas dan tegas. Apakah merupakan cinta dengan seorang perempuan atau cinta Ilahi, diekspresikan dengan jelas, tanpa ada ambigu. Bahkan, nama-nama perempuan yang dicintainya juga disebut dengan jelas dalam puisinya. Ini berbeda dengan Amir Hamzah,” urai Kang Jamal.

Jadi, jika dibaca seluruh puisi-puisinya, Chairil Anwar menempatkan tema-tema cinta, religiusitas, dan sosial sebagai tema-tema yang berdiri sendiri, otonom.

“Nah, sekarang di mana posisi Agus R Sarjono? Sementara, kita mengenalnya selama ini melalui puisi-puisinya yang bertema kritik sosial, dan baru kali menerbitkan buku puisi bertema cinta,” ujar Kang Jamal.

Rupanya, di mata Kang Jamal, Agus R Sarjono menempuh “jalan sintesis”, berbeda dengan Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Puisi-puisi yang termuat dalam buku Seperti Puisi ini, seperti tema-tema cinta terhadap manusia, cinta Ilahi atau religiusitas, dan kritik-kritik sosial menjadi satu kesatuan organik.

Contohnya adalah puisi pertama yang dijadikan judul bukunya, Seperti Puisi. Dalam puisi ini, tema cinta, religiusitas, dan sosial tidak disublimasi atau diberi garis demarkasi, melainkan sebagai satu kesatuan yang utuh.

“Sebagai judul puisi pembuka dalam buku ini, Seperti Puisi saya kira bisa disebut sebagai kredo penyairnya. Dan di posisi itulah kita menempatkan Agus R Sarjono dalam menuliskan ekspresi cinta ke dalam puisi,” demikian Kang Jamal menyimpulkan.

Sebelumnya, Agus R Sarjono menyebut dirinya memang hampir tak pernah menulis puisi bertema cinta. Atas dorongan teman-temannya, ia akhirnya menulis puisi tentang cinta yang kemudian dijadikannya lagu. Akhirnya, kadang seperti lagu, kadang seperti puisi. Lagu tapi seperti puisi. Puisi tapi seperti lagi. Begitulah, buku Seperti Puisi akhirnya lahir.

Perayaan buku Seperti Puisi itu akhir dipungkasi pembacaan cerpen oleh Joni Ariadinata dan Nyanyian dari Agus R Sarjono. Begitulah pungkasan dari perayaan tak bisa di Kebun Makna, Minggu malam itu.

Tinggalkan Balasan