Pesantren sebagai Akar Penguatan Pancasila

Jumat, 10 Juli 2026, Festival Dunia Santri 2026 memasuki sesi ketiga. Festival yang diinisiasi jejaring duniasantri dan duniasantri.co ini sebelumnya dibuka pada 19 April 2026 di Pondok Pesantren Dar el-Fikr, Depok, dan akan berlangsung hingga 28 Oktober 2026. Setelah sesi kedua menghadirkan Diskusi Buku Islam, Sastra, Pengetahuan karya Jamal D. Rahman di UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Serang, Banten, pada 4 Juni 2026, sesi ketiga menghadirkan Diskusi Buku Menggali Api Pancasila karya Ngatawi Al-Zastrouw.

Diskusi sesi ketiga ini didukung oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini berlangsung di Pendopo Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Yogyakarta.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pemilihan pesantren sebagai lokasi diskusi bukan sekadar soal tempat, melainkan penegasan bahwa pesantren merupakan salah satu ruang tempat nilai-nilai Pancasila tumbuh, dipelihara, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada satu pertanyaan yang sejak lama menggeliat dalam benak, bahkan kerap menjelma menjadi kegelisahan, ketika menyaksikan wajah Indonesia hari ini: apakah Pancasila masih hidup sebagai laku, atau telah berubah menjadi sekadar hafalan?

Pertanyaan itu terasa semakin mendesak ketika ruang publik dipenuhi berbagai paradoks. Di hampir setiap kantor pemerintahan terpampang lambang Garuda Pancasila. Para pejabat hafal lima sila. Setiap upacara kenegaraan selalu diawali dengan pembacaan Pancasila. Namun, pada saat yang sama, korupsi masih merajalela, ketimpangan sosial semakin menganga, ujaran kebencian mengalir deras di media sosial, dan politik identitas terus mengoyak persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.

Dalam situasi seperti itulah, diskusi tentang Pancasila menjadi penting. Bukan untuk kembali menghafalkan lima sila, melainkan untuk menggali kembali api nilai-nilai yang melahirkannya dan menemukan di mana api itu masih menyala hingga hari ini.

Lalu, di manakah sebenarnya Pancasila masih bernapas? Pertanyaan itulah yang menjadi denyut utama Diskusi Buku Menggali Api Pancasila yang diselenggarakan jejaring duniasantri dan duniasantri.co bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Pondok Pesantren Minggir.

Tempat penyelenggaraannya bukanlah kebetulan. Pesantren dipilih bukan sekadar sebagai lokasi acara, melainkan sebagai ruang tempat Pancasila telah lama hidup sebelum dirumuskan menjadi dasar negara.

Empat narasumber hadir dari latar belakang yang berbeda. Ada ulama, akademisi, penulis, sastrawan, dan pejabat negara. Mereka datang membawa bahasa masing-masing, tetapi bermuara pada keyakinan yang sama: Pancasila bukan sekadar teks konstitusi, melainkan kebudayaan hidup bangsa Indonesia.

KH. Ahmad Muwafiq membuka cakrawala dengan kesederhanaan yang justru mengandung kedalaman. Menurutnya, Indonesia tidak perlu mencari ideologi baru. Nilai-nilai Pancasila telah final. Jika bangsa ini ingin aman, damai, dan rakyatnya sejahtera, maka tidak ada jalan lain selain menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup.

Tinggalkan Balasan