MERAYU BULAN DI PESANTREN

begitu seterusnya, hingga bertahun-tahun,
kalender menggulung musim & cerita.
mereka saksikan kemudian, dunia
telah menyerahkan diri pada keculasan.

ada sisa tangis pada hati mereka
seperti seolah tiada hari-hari bahagia
melebihi hidup ala kadarnya
di bilik asrama, tempat mereka tinggal

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

dan menyaksikan fajar pecah
— setiap pagi, setiap doa
kerinduan memanggil seperti
azan yang menggema

damparalit, 2024.

HAFALAN MALAM DI SURAU TUA

Di surau kecil, Alif menyusun doa
menyapu sunyi dengan gemericik angin
mencatat suara malam yang telanjang
dan irama sunyi yang menari.

Ia lantunkan nazam hafalan
berulangkali ia membaca,
mengingat, dan kembali lupa.
Ayat-ayat sunyi terdengar
bukan kesadaran untuk lupa,
tetapi, biar ia kerahkan daya dan upaya
untuk kembali ingat, karena akar
menguatkan pada tanah, pada bumi,
di mana ia ditanamkan.

Dunia berisik, seolah mengajaknya
menuju kehidupan materialistik
yang didamba kebanyakan orang.
Tapi Alif memilih diam,
mengunyah doa perlahan
seperti biji kopi yang disangrai.

“Apa yang dicari dari kecepatan?” tanyanya,
hanya langit yang menjawab,
dengan bintang-bintang
yang tetap bercahaya tanpa tergesa.

damparalit, 2024.

Tinggalkan Balasan