Puncak Festival Dunia Santri 2026 di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Sabtu (24/10/2026), berlangsung begitu meriah. Kegiatan yang diselenggarakan jejaring duniasantri dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari santri, mahasantri (mahasiswa yang juga menempuh pendidikan di pesantren), hingga masyarakat umum.

Festival yang dibuka oleh M Halim Pohan dari Dewan Pembina jejaring duniasantri ini menjadi ruang pertemuan untuk merayakan literasi, sastra, dan kreativitas santri melalui diskusi serta pertunjukan seni.

Kegiatan yang mengusung tema “Dari duniasantri untuk Negeri” ini menghadirkan beragam kegiatan yang mempertemukan tradisi pesantren dengan perkembangan sastra dan kebudayaan. Rangkaian acara meliputi diskusi, pembacaan puisi, pertunjukan Wayang Beber, Musik Empang, monolog, serta pengumuman pemenang Sayembara Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren.
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan tamu undangan, dilanjutkan penampilan Hadrah Banjari, pemutaran video perjalanan Festival Dunia Santri, dan pembukaan acara. Setelah rangkaian pembukaan, kegiatan memasuki sesi diskusi yang menghadirkan sejumlah tokoh dari kalangan pesantren, akademisi, dan pegiat sosial.
Hadir sebagai narasumber seminar dengan tema Analisis Korpus 5000 Tulisan Santri adalah KH Musta’in Syafi’i (Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng), Fachry Ali (intelektual Muslim), Dr Novi Diah Haryanti (dosen dan peneliti dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan sastrawan Jamal D. Rahman.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian muncul dalam sesi tanya jawab mengenai tekanan dalam relasi senior-junior di lingkungan pesantren. Pertanyaan tersebut menyoroti pengalaman santri dalam menghadapi kedisiplinan, aturan, dan dinamika kehidupan bersama yang tidak selalu memberikan kenyamanan.
Menanggapi persoalan tersebut, KH Mustain Syafi’i menjelaskan bahwa ketidaknyamanan dalam kehidupan pesantren dapat menjadi bagian dari proses pendidikan dan pendewasaan santri. Berbagai tantangan dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membentuk kedisiplinan dan ketahanan diri. Meski demikian, pengalaman tersebut perlu dipahami secara proporsional, terutama ketika berkaitan dengan hubungan antarsantri.
Diskusi kemudian mengarah pada pertanyaan tentang kemungkinan menuangkan pengalaman kehidupan pesantren ke dalam tulisan tanpa merusak nama baik pesantren. Persoalan ini memperlihatkan bahwa menulis tentang pesantren tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga tanggung jawab.
Pengalaman dan persoalan yang muncul di lingkungan pesantren dapat diangkat menjadi tulisan dengan tetap mengutamakan adab dan etika. Penulis perlu memperhatikan kebenaran informasi, konteks peristiwa, serta dampak tulisan terhadap pihak-pihak yang terlibat. Dengan demikian, tulisan dapat menjadi sarana menyampaikan persoalan sekaligus membuka ruang refleksi dan perbaikan.
Menjaga adab tidak harus berarti menutup ruang kritik. Sebaliknya, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari upaya merawat tradisi pendidikan pesantren.
Pembahasan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya literasi agar pengalaman dan persoalan dalam kehidupan sehari-hari dapat disampaikan secara jernih, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah sesi diskusi, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi, termasuk puisi lintas iman, serta berbagai pertunjukan seni. Panggung festival menghadirkan Wayang Beber Metropolitan, monolog Hubbul Wathon, dan musik Empang. Beragam penampilan tersebut menjadi ruang ekspresi yang mempertemukan tradisi pesantren dengan perkembangan seni dan sastra.
Pemenang Lomba
Salah satu agenda penting dalam festival ini adalah pengumuman pemenang Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren. Lomba tersebut menjadi upaya merekam perjalanan hidup, pemikiran, dan kontribusi tokoh-tokoh pesantren melalui karya tulis yang dapat dibaca oleh masyarakat luas.
Zaky Satria meraih Juara I melalui karya berjudul “Canang di Meja Madrasah: Ni Made Sudardani dan Dua Dasawarsa Menghidupkan Toleransi di Pesantren Bali Bina Insani”. Juara II diraih Abbas Abdul Basit melalui karya “Mbah Riyan Ulama Ahli Manuskrip dari Kudus”. Sementara itu, Mauliddinho Aditya Waluyo meraih Juara III melalui karya “Manaqib KH. Hasan Bisri Cholil: Peletak Fundamen Pendidikan dan Kelembagaan Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang”.
Selain ketiga pemenang tersebut, penyelenggara juga mengumumkan sejumlah penulis dengan karya terpilih yang akan dibukukan dalam buku biografi orang-orang pesantren. Mereka adalah Nisratul Naira, Sudirman, Fauzan Sidik, Rusdi el Umar, Ilham Islamuddin Ma’ruf, Muhammad Royyan Faqih dan Moh. Mahfud Ali Amari, Mahmud Abdul Ghofur, Muhammad Mursyid, Herlina, Syarif Abdurrahman, Ariel Ahmad Bustomi, serta Frenki Adi.
Pengumuman tersebut menunjukkan bahwa penulisan biografi dapat menjadi salah satu cara untuk mendokumentasikan sejarah pesantren. Melalui karya para penulis, perjalanan tokoh-tokoh pesantren tidak hanya menjadi ingatan di lingkungan masing-masing, tetapi juga dapat diperkenalkan kepada pembaca yang lebih luas.
Festival Dunia Santri 2026 tidak hanya menjadi ruang apresiasi terhadap karya sastra dan biografi, tetapi juga membuka kesempatan untuk membicarakan kehidupan pesantren secara kritis dan bertanggung jawab. Perpaduan antara diskusi, pertunjukan seni, dan penghargaan terhadap karya tulis memperlihatkan bahwa tradisi pesantren dapat terus dirawat melalui pengembangan literasi dan kreativitas.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penampilan musik dan ramah tamah. Melalui festival ini, jejaring duniasantri menghadirkan ruang pertemuan antara tradisi pesantren, kreativitas, dan kehidupan masyarakat.
