Merindukan Sosok Gus Dur

Bukan perkara gampang. Gus Dur pun harus berdebat sengit dengan para pendukungnya yang sudah diamuk emosi. Namun, setelah melalui perdebatan panjang dan melelahkan, Gus Dur akhirnya mampu meyakinkan para pendukungnya. Sesuai permintaan Gus Dur, massa pasukan berani itu akhirnya pulang ke rumah masing-masing dan berdoa yang terbaik untuk bangsa Indonesia.

Bagi Gus Dur, seperti yang pernah diungkapkannya, “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dibela mati-matian.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Hari ini, saya teringat sosok Gus Dur lantaran banyak tokoh agama yang justru mengambil jalan politisi: mengumpulkan dan mengerahkan massa sebanyak-banyaknya untuk dikapitalisasi menjadi kekuatan pendukung. Baik pendukung untuk kepentingan dirinya sendiri maupun kelompoknya.

Adapun, Gus Dur, sepanjang yang saya tahu, adalah pejuang yang tidak pernah menarik-narik atau melibatkan massa untuk menyokong perjuangannya. Di masa Orde Baru, misalnya, Gus Dur adalah musuh nomor wahid penguasa saat itu. Gus Dur merupakan tokoh yang begitu gigih memperjuangkan demokrasi, hak-hak asasi manusia, hak-hak sipil, pluralisme, kelompok-kelompok monoritas, dan kaum tertindas. Karena aktivitasnya itu, Gus Dur dianggap merongrong kekuasaan Orde Baru. Sering Gus Dur dizalimi dan “dicekal” di banyak tempat. Salah satunya saya pernah menyaksikannya sendiri. Entah tahun berapa saya lupa. Setelah memberikan ceramah di Pondok Pesantren Sumberwringin Jember, Jawa Timur, sedianya Gus Dur menjadi pembicara di kampus Universitas Negeri Jember atas undangan mahasiswa. Namun, penguasa setempat tak mengizinkannya. Jalan-jalan yang akan dilewati Gus Dur diblokir aparat. Tak kurang akal, diam-diam Gus Dur membonceng sepeda motor. Melalui jalan-jalan tikus, Ketua Umum PBNU itu akhirnya bisa menemui mahasiswa yang mengundangnya.

Begitulah cara Gus Dur. Ia adalah pejuang paling gigih di berbagai bidang kehidupan, namun risikonya selalu dipikulnya sendiri, tanpa pernah melibatkan atau mengerahkan massa. Ketika rezim Orde Baru begitu represif, Gus Dur memperjuangkan demokratisasi dan selalu melakukan pelawanan dengan caranya sendiri. Ketika kaum minoritas tertindas dan diperlakukan tidak adil, Gus Dur melakukan pembelaan tanpa tedeng aling-aling. Dan ketika kelompok-kelompok radikalis-ekstremis berbasis agama mulai banyak tingkah, Gus Dur merupakan tokoh paling depan melakukan penentangan dan perlawanan, juga seorang diri.

Tinggalkan Balasan