Padahal, kalau mau, Gus Dur bisa dengan gampang mengerahkan massa yang basisnya adalah kaum nahdliyin. Sebagai cucu KH Hasyim Asyari dan tokoh NU, Gus Dur bisa saja menggerakkan atau mengerahkan massa nahdliyin atau kaum santri untuk mendukung setiap perjuangannya. Tapi, sekali lagi, itu tidak pernah dilakukannya, hingga ia harus melawan sendirian pemakzulannya.
Atas segala risiko yang menimpanya, Gus Dur juga tidak pernah mempersonifikasi dirinya sebagai representasi dari umat Islam atau Islam sebagai agamanya. Semuanya dianggap sebagai risiko perjuangan yang harus dipikulnya sendiri, seperti kata-kata yang pernah diungkapkannya:

“Saya tidak peduli, mau popularitas saya hancur, difitnah, dicaci maki atau dituduh apa pun, tapi bangsa dan negara ini harus diselamatkan dari perpecahan.”
***
Hari ini, saya teringat sosok Gus Dur ketika banyak tokoh agama sedikit-sedikit mengerahkan massa berunjuk rasa. Kini, banyak tokoh agama yang jika tersentil sedikit oleh kelompok lain langsung membakar-bakar emosi pengikutnya, menyeret-nyeret massa ke medan laga. Kini, banyak tokoh agama yang mempersonifikasi dirinya sebagai representasi dari umat atau agama yang dipeluknya. Menyakiti dirinya sama dengan menyakiti umat dan agamanya. Membela dirinya sama dengan membela umat dan agamanya.
Sungguh, dalam suasana seperti ini, sosok Gus Dur sangat dirindukan kehadirannya. Pribadi yang berani berdiri paling depan, dengan suara lantang, menentang dan melawan segala bentuk perilaku antidemokrasi, intoleran, mau menang sendiri yang datang dari mana pun.
