Sejak itu, terjadi persekutuan-perselingkuhan antara Imam Besar, pihak istana, dan pengusaha. Proses persekutuan-perselingkuhan diceritakan melalui beragam media. Misalnya, melalui percakapan telepon dalam gambar siluet. Atau, mesin cuci raksasa berubah menjadi layar televisi yang penuh dengan pemberitaan dan layar smartphone dengan berbagai konten.
Motif bisnis akhirnya memasuki dunia Imam Besar, saat perempuan pengusaha itu berniat membangun pabrik tekstil.

“Agama Tuan Imam Besar kan mewajibkan para jemaatnya mengenakan pakaian yang tertutup rapat. Maka, kita harus bisa menyediakan pakaiannya dengan membangun pabrik tekstil sendiri yang besar. Keuntungannya nanti kita bagi bersama. Tuan Imam Besar hanya perlu meyakinkan jemaat agar tanah mereka bisa dibeli dengan murah untuk kepentingan ibadah,” perempuan pengusaha itu merajuk dengan genit, dan luluhlah hati sang imam.
Rencana membangun pabrik tekstil itu sepertinya akan berjalan mulus. Hati sang imam sudah luluh. Dan pihak istana sudah memberi lampu hijau. Untuk merayakan kesepakatan bisnis antara Imam Besar dan perempuan pengusaha itu, mereka berdua kemudian memasuki ruangan khusus yang tak lain adalah mesin cuci raksasa itu, untuk tidur bersama. Dan meledaklah gelak tawa penonton.
Ketika sampai pada adegan terjadi penolakan dari pemilik tanah yang hendak dibeli dengan harga murah, Imam Besar mengumpulkan laskar pembela sang imam dan jemaatnya. Sang imam memerintahkan laskar dan para pemgikutnya untuk melakukan “eksekusi”. Maka, terjadilah huru-hara itu: orang-orang yang menolak tanahnya dibeli murah diintimidasi, dijarah, disiksa, dibunuh, dan dikafir-dikafirkan. Di tengah huru-hara itu, terdengar tangis bayi pecah usai mbrojol dari rahim ibunya yang terkulai seorang diri.
Itulah akhir ceritanya. Betapa adegan-adegan penuh satir itu menggambarkan apa yang disebut jemaat, umat, atau rakyat seringkali hanya dijadikan mesin untuk memproduksi keuntungan bagi para elitenya, entah itu tokoh agama, penguasa, atau pengusuha. Sesungguhnya itu sedikit berbau klise, sebab perselingkuhan segitiga di antara mereka sudah terjadi sejak zaman baheula. Namun, ceritanya memang disuguhkan dengan begitu apik oleh Teater Syahid dan tertata rapi di atas panggung, dengan sentuhan-sentuhan kekinian. Yang sedikit berbau klise itu akhirnya menjadi tontonan menarik karena menampilkan wajah kita yang sebenarnya.
