Kita sudah saling membuka pintu ketika pagi tiba,
tatkala mentari memancarkan sinarnya
Kita sudah saling membuka jendela, tatkala pelangi tampak, seusai hujan reda

Kita sudah sama-sama menyiram dan merawat harapan-harapan, agar langkah ke depan tak mencekam
Kita sudah saling menulis dan membaca dengan apa yang sudah kita tulis dan kita baca.
Aku menulis tentang gerimis
dan kau membaca tentang senja.
Kita sudah belajar tentang bagaimana menyelesaikan permasalahan–tidak dengan hati yang panas, tapi dengan kepala yang dingin.
Harusnya kita tidak selalu menyalahkan takdir, untuk hanya hal-hal yang merugikan,
tapi tidak dengan hal yang menguntungkan, sebab takdir berjalan mengikuti iramanya.
Kita bukan lagi engkau dan aku yang bersatu–sebagaimana dahulu.
Tapi kata ‘kita’ sudah saling menempuh jalan masing-masing,
Takdir sudah mengubah ke jalan keyakinan.
Kau dengan kebahagiaan dan kesedihanmu sendiri.
Kau tempuh di jalan yang lain, kau tulis dalam cerita yang lain, kau buka pintu dan jendela yang lain, kau rawat harapan yang lain.
Katamu, ada rumah yang lebih indah dari rumah yang kita buat dalam cerita-cerita kita,
; yaitu rumah tangga
