Misteri di Kota Sunyi

“Tapi, tak mudah untuk datang ke kota sunyi itu, apalagi untuk menemui petapa itu,” Bikar mengerutkan dahi. Ia menembakkan tatapnya jauh ke ufuk barat.

“Kenapa, Bik?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Sebab orang-orang yang datang ke kota itu harus berhadapan dengan beragam cobaan dan ancaman. Tak sedikit yang pulang dengan kegagalan, bahkan tak sedikit pula yang meregang nyawa di kota angker itu,” Bakar menoleh ke wajahkku dengan wajah yang meringis.

Aku dan Zida diam mematung. Saling tatap dan menarik napas agak panjang.

“Kalau boleh tahu, apa sebenarnya yang dilakukan orang-orang saat bertemu petapa itu?” Zida menyela lembut.

“He-he. Lihat saja nanti,” jawab Bikar seraya mengedipkan mata. “Yang jelas, apa yang petapa itu perintahkan adalah hal-hal yang dilarang agama,” lanjut Bikar sambil menyandarkan kepalanya ke tembok.

Cerita Bikar itulah yang membuat kami —terutama Zida— sangat cemas memasuki kota sunyi ini. Seolah kami sedang menapak kota maut dan jalan sunyi menuju neraka.

Zida semakin erat memeluk lenganku. Terasa seluruh tubuhnya gemetar. Matanya umpama bunga kecubung kering. Beberapa kali ia menutup mata dengan telapak tangannya saat kami melintasi sebuah bar, di dalamnya ada beberapa kepala yang terpenggal, matanya melotot dan sebagian terpejam, di pangkalnya membekas darah kering. Lalat, semut dan ulat berpesta di tempat itu.

Kami terus melangkah. Genggaman Zida di bahuku sangat kuat dan ia memelukku erat sekali. Sedang jantungku berdegup kencang saat tangan kanan pelan membuka daun pintu tua bergambar harimau seperti yang dimaksud Ki Sin.

Kesunyian kota ini seperti berpusat dalam ruangan ini. Sangat sunyi, nyaris tak ada suara apa pun. Sesorot cahaya yang agak jauh, terbias dari sebuah retakan gedung di bagian pojok. Bau bangkai menusuk pembauan. Kami terus melangkah, seiring tubuh Zida yang semakin gemetar dan isaknya mulai terdengar. Dalam kegelapan, serasa kakiku menyentuh mayat-mayat, potongan daging, dan tubuh ular. Ketakutan dan kengerian hilang oleh rasa ingin kaya, sebagaimana yang dilakukan para koruptor di negeri ini.

Saat tiba di dekat sesorot cahaya dari retakan gedung itu, aku sangat terkejut. Di lantai yang kotor, seorang lelaki tua mati berpelukan dengan anjingnya yang bermata satu. Lidahnya menjulur. Ratusan ulat bermukim di tubuhnya yang sebagian sudah membusuk. Aku menoleh ke wajah Zida. Zida pun menoleh ke wajahku. Kami saling bertatap bisu dalam kesunyian.

Tinggalkan Balasan