Film-film horor Indonesia sangat rajin mengkonstruksi suasana seram dengan kemenyan. Hal ini pada akhirnya membuat saya, dan mungkin juga hampir kebanyakan orang menganggap bahwa kemenyan adalah sesuatu yang lekat dengan misteri. Hal inilah yang membuat antusiasme kita dalam mengeksplorasi kemenyan terhenti. Padahal, produk yang berasal dari getah pohon styrax benzoin ini memiliki beragam manfaat dan merupakan salah satu komoditas perdanganan yang cukup tua.
Kemenyan adalah aroma wewangian berbentuk kristal yang digunakan dalam dupa dan parfum. Sejak ratusan tahun yang lalu, kemenyan telah menjadi komoditas perdagangan global melalui Jalur Sutra. Kemenyan menjadi salah satu komoditas primadona yang harganya setara atau bahkan lebih mahal dari emas. Para pedagang memburu kemenyan karena permintaan yang tinggi. Para raja, bangsawan, dan pemuka agama menggunakan kemenyan untuk berbagai keperluan, seperti pengharum ruangan, obat, campuran kosmetik, hingga keperluan spiritual.

Sebuah catatan dari dinasti Sung (AD 960-1279) menyebutkan bahwa kemenyan, yang berasal dari Sumatra dan Kamboja, telah diperdagangkan lebih dari 1000 tahun di Asia Tenggara. Catatan lain bahkan menyebutkan bahwa perdagangan kemenyan sudah berlangsung jauh sebelum itu. Sumatra Utara dan Mesir Kuno telah mengadakan kontak dan memperdagangkan kemenyan serta kapur barus. Bangsa Mesir Kuno mendatangkan kemenyan untuk berbagai fungsi, seperti pengobatan dan kebutuhan spiritual dan kapur barus sebagai bahan pengawet mumi.
Di Indonesia, daerah penghasil kemenyan adalah Tapanuli dan sedikit wilayah di Sumatra Barat. Tercatat ada 20 jenis pohon kemenyan di dunia. Namun yang tumbuh di Sumatra Utara adalah durame (styrax benzoine) dan kemenyan Toba (styrax sumatrana). Tanaman yang mampu hidup lebih dari 100 tahun ini merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Tapanuli. Terdapat sebuah cerita rakyat yang mengisahkan muasal dari pohon kemennyan. Menurut cerita tersebut, kemenyan merupakan perwujudan seorang gadis cantik namun miskin yang lari ke hutan untuk menghindari perkawinan yang tidak ia inginkan. Konon, rambutnya yang tergerai panjang berubah menjadi reranting sedangkan tangisnya berubah menjadi getah yang disadap petani, dan mengkristal menjadi bahan baku kemenyan itu sendiri.
Dalam dunia medis modern, kemenyan yang juga biasa disebut dengan benzoin, digunakan sebagai obat atau campuran obat itu sendiri. Kedokteran gigi misalnya, menggunakan kemenyan sebagai obat gusi bengkak dan luka herpes di mulut. Obat-obat farmasi seperti ekspektoran untuk penyakit bronkitis dan disinfektan pada luka juga menggunakan kemenyan sebagai bahan bakunya. Beberapa orang bahkan menerapkannya langsung ke kulit untuk membunuh kuman, mengurangi pembengkakan, dan menghentikan pendarahan pada luka kecil. Kemenyan digunakan untuk mengatasi borok kulit, luka tirah baring, dan kulit pecah-pecah dengan cara mengoleskannya langsung kepada bagian yang bermasalah. Kombinasi kemenyan dengan herbal lain seperti aloe, storax, dan balsam tolu, yang dikenal sebagai “senyawa benzoin tincuture”, juga berfungsi sebagai pelindung kulit yang cukup efektif.
