Lebih jauh lagi, kemenyan lekat dengan berbagai kebudayaan di dunia. Orang Arab menggunakan kemenyan sebagai pengharum ruangan dan aroma terapi. Bahkan, diyakini bahwa aroma kemenyan juga digunakan untuk meningkatkan konsentrasi karena efeknya yang menenangkan. Maka tidak heran, dalam beberapa majelis keagamaan, pembakaran kemenyan juga dilakukan sebelum acara dimulai. Dalam tradisi Kristen, kemenyan juga menempati posisi yang cukup penting. Terdapat cerita bahwa salah satu hadiah yang dibawa oleh “orang Majus dari Timur”, selain mur dan emas, adalah kemenyan yang menyimbolkan bahwa Yesus akan menjadi imam agung. Hal serupa juga melekat pada tradisi agama-agama ardhi.
Bagi orang Jawa sendiri, pembakaran kemenyan bukanlah simbol undangan kepada makhluk gaib. Kemenyan yang dibakar dan mengepulkan asap berbau khas sebenarnya mengandung makna talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkang nampi Dzat ingkang Maha Kuwaos.

Bila diartikan secara bebas, ungkapan tersebut bermakna hajat, ritual, atau acara apa pun hendaknya selalu untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bara api dari pembakaran kemenyan dimaknai dengan urubing cahya kumara (serupa api yang membara). Ini adalah perlambang semangat dan harapan di hati manusia untuk mewujudkan cita-cita yang diinginkan. Sementara asap yang membubung tinggi adalah perlambang doa yang terus naik ke hadapan Tuhan.
Dengan demikian, kemenyan memiliki cerita yang teramat panjang yang tidak dimonopoli oleh kebudayaan atau kepercayaan tertentu. Fungsi kemenyan yang beragam, memungkinkannya meresap pada sendi-sendi bermacam kebudayaan. Kemenyan yang kaya akan faedah, juga telah dimanfaatkan untuk keperluan dunia medis. Sehingga, tidak ada alasan bagi kita, eh saya, untuk memiliki ketakutan dan asosiasi liar yang negatif terhadap kemenyan.
***
