Modern adalah “Tradisional yang Dijual”

Padahal, fenomena sosial maupun fenomena budaya yang terjadi di masa lalu merupakan aspek modernitas dan akar dari modernitas yang saat ini. Banyak sekali hal-hal yang modern yang berakar pada tradisionalitas. Bahkan, beberapa hal yang dibilang tradisional belum bisa dijelaskan oleh manusia modern saat ini. Dan banyak pula hal modern yang saat ini terjadi sudah digambarkan oleh manusia masa lalu yang dianggap sebagai masyarakat tradisional.

Di sini, penulis akan memberikan beberapa contoh yang berkaitan dengan tradisional dan modern. Pertama, dukun beranak. Jauh sebelum profesi kebidanan hadir dalam subjek pengetahuan, manusia tradisional sudah mengetahui teori dan konsep cara menangani kelahiran. Bahkan para dukun beranak tidak hanya dibekali dengan pengetahuan praktis, namun juga pengetahuan spiritual. Namun, rupanya zaman menelan profesi tradisional tersebut dan akhirnya ditransformasikan menjadi bidan. Sekolah-sekolah kejuruan dan kampus-kampus berlomba-lomba membuka lowongan pengetahuan untuk mempelajari kebidanan. Bahkan, banyak pula dukun beranak yang harus bermitra kepada bidan dulu untuk bisa membantu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Standar modern rupanya menggeser nilai kearifan masa lalu. Tak hanya itu, monopoli terminologi juga digencarkan. Para intelektual lebih suka mengambil istilah bidan ketimbang dukun karena aspek modern dan tradisional. Padahal, segala konsep dan ide justru datang jauh sebelum munculnya bidan. Lalu siapa yang modern dan siapa yang tradisional jika begini?

Tinggalkan Balasan