Kedua, sistem perbankan syariah. Jauh sebelum bank-bank di zaman modern ini muncul, konsep dan teori keuangan justru sudah diatur dalam konsep Islam. Saat ini justru sistem bank syariah mempunyai market yang besar, sehingga banyak yang tertarik untuk menjadi nasabah. Padahal jika kita telisik, konsep ini justru sudah ada ratusan tahun lalu, namun nyatanya baru masif digunakan di satu dekade terakhir ini. Lalu, siapa yang modern dan siapa yang tradisional?
Ketiga, alat minum kendi. Jika kita biasanya minum air dengan mengambil air dari galon dan dituangkan ke gelas kaca atau plastik, maka cara minum pada zaman dulu bukanlah dari gelas kaca melainkan dari alat minum dari gerabah, yaitu kendi. Rupanya konsep tradisional ini membuat manusia modern takjub. Di balik kendi ada banyak manfaat kesehatan yang diberikan, di antaranya adalah air dari kendi dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Air dalam kendi juga dapat menyesuaikan pH air yang diinginkan tubuh kita, dan masih banyak yang lain. Rupanya modernitas masih tertinggal jauh dari pengetahuan masa lampau. Lalu, siapa sebenarnya yang modern dan siapa yang tradisional?

Dan, tidak hanya itu, bahkan konsep yang digunakan manusia tradisional masih banyak yang belum bisa dijawab oleh manusia modern. Walaupun, sudah berabad-abad waktu yang diberikan, tetap saja tidak bisa. Semisal, menjelaskan tentang peristiwa Isra Miraj secara intelektual, menjelaskan bagaimana sebuah candi pada masa Singosari bisa berdiri kokoh walau tanpa semen, dan banyak yang lainnya. Sedangkan, kemunculan peristiwa modern justru dianggap biasa oleh masyarakat tradisional. Contohnya, munculnya pesawat atau kereta, orang zaman dulu akan menjawab “Itu sudah diramalkan Jayabaya, gak perlu kaget.”
