| Indikator Kejayaan (Dulu) | Indikator NU Saat Ini (Kini) |
| Otonomi Moral | Keterikatan Struktural |
| Jarak dari Kekuasaan | Kedekatan dengan Kekuasaan |
| Kemandirian Ekonomi (Koperasi) | Ambisi Korporasi (Aset Besar) |
| Dominasi Ide dan Intelektual | Dominasi Politik dan Jabatan |
Pada masa-masa emas tersebut, NU adalah pengontrol moral, bukan pemain politik. Ulama adalah penentu arah, bukan jabatan struktural.
Kini, NU disibukkan oleh lobi jabatan, urusan aset, dan ambisi untuk memiliki entitas bisnis besar. Banyak pihak khawatir NU telah menukarkan otonomi moralnya demi kekuatan struktural, yang ironisnya adalah jebakan yang ingin dihindari oleh para ulama pendiri dan Gus Dur. Energi organisasi kini berisiko terkuras untuk mempertahankan status quo politik, alih-alih melayani umat.

Memanggil Kembali Ruh Kejayaan
Mengingat masa kejayaan bukanlah sekadar upaya bernostalgia buta, melainkan sebuah refleksi kritis untuk mengidentifikasi ruh yang hilang. Kita perlu bertanya: Bagaimana membawa kembali semangat independensi, idealisme intelektual, dan keberpihakan total kepada grassroots ke dalam struktur NU saat ini?
Membangun NU di abad kedua harus dimulai dengan mencontoh kembali kearifan para pendiri: berani menjadi pihak yang independen, bersahaja, dan fokus pada umat. Jika para ulama pendiri berani melawan penjajah dan Gus Dur berani melawan rezim otoriter demi kemuliaan organisasi, maka NU hari ini harus berani melawan godaan pragmatisme politik dan bisnis.
Ruh kejayaan sejati NU terletak pada kesanggupannya untuk tetap menjadi organisasi ulama yang dicintai karena kesederhanaan dan kemuliaan moralnya, bukan karena kekuatan politiknya. Itu adalah warisan yang patut diperjuangkan.
