Muhammad Kece dan Lain-lainnya

Hari-hari ini saya merindukan pendakwah yang seperti guru-guru ngaji saya dulu. Tidak menghakimi. Tidak menyakiti. Muhammad Kece dan lain-lain itu tidak lahir dari ruang hampa —karena ia bukan orang yang pertama melakukannya. Pendakwah dari semua agama pernah melakukannya. Sebab, jika satu melakukan dan diberi ruang, yang lain tinggal mengikutinya. Maka itulah yang kita lihat hari-hari ini, mimbar dakwah kita lebih banyak berisi penghakiman, caci maki, saling menyakiti.

Dulu, sebelum era digital yang disruptif ini, kita pernah punya dai kondang dengan jumlah jamaah tiada banding: KH Zainuddin MZ. Mimbar dakwahnya selalu dibanjiri lautan jamaah, hingga ia diberi julukan dai sejuta umat. Tak hanya dari atas mimbar, orang-orang sering berkerumun mendengarkan ceramahnya dari kaset-kaset yang diputar tape recorder. Mungkin sampai hari ini masih banyak orang yang mengoleksi kaset-kasetnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika kita memeriksa kembali ceramaah-ceramahnya, dai berdarah Betawi ini nyaris tak pernah menyinggung kelompok agama lain, membanding-bandingkan agamanya dengan agama lain. Yang lebih mewarnai isi dakwahnya justru ajakan introspeksi, apakah kita sudah beragama secara benar, tentu dengan gaya khasnya sendiri yang kocak. Bahkan tak jarang nada dakwahnya begitu satire, menertawakan diri sendiri.

Karena itu, kita tak pernah ingat dari jutaan jamaahnya itu ada yang berwajah garang sepulang dari mendengarkan ceramah-ceramahnya, lalu menyulut api kebencian atau kemarahan kepada yang lain. Yang ada justru seperti ini kira-kira: ada yang mesem-mesem atau senyum-senyum sendiri karena merasa tersindir; ada yang diam-diam mengumpat dalam hati, merutuki diri karena sadar telah merasa sok suci; dan yang lebih banyak, tentu, wajah-wajah sumringah yang siap berbenah.

Gambaran serupa juga akan muncul jika kita mendengarkan kembali ceramah-ceramah Gus Dur di berbagai kesempatan, seperti yang beberapa hari lalu saya dengar ketika seorang teman sedang memutar ceramahnya melalui kanal media sosial dari seberang meja.

3 Replies to “Muhammad Kece dan Lain-lainnya”

  1. Hal senada dengan Sunan Kudus, apa yang dikatakan oleh Ma’ruf Amin saat ini, bahwa bagi yang tidak vaksin haram hukumnya dan masuk neraka. Wah, terkait ini banyak sekali caci maki yang muncul, bahkan orang-orang yang tidak faqih pun, seakan-akan menjelma jadi ahli fiqih yang paling mumpuni. Tetapi, demikianlah kehidupan, selalu ada perbedaan, senantiasa muncul Muhammad Kece, dan selalu lahir seseorang dengan teknik dakwah yang “menuding.”

    Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah swt. Aamiin!

Tinggalkan Balasan