Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sedangkan, hijrahnya Nabi SAW adalah agar selamat dari kejahatan orang-orang kafir di Makkah. Berdasarkan wahyu, kemudian Rasulullah SAW melakukan perjalanan ilahiyah dari Makkah ke Madinah.

Kedua, adalah hijrah batiniyah. Artinya perpindahan kebaikan dari keburukan yang sifatnya batin. Tidak perlu berpindah tempat, namun cukup perasaan saja yang merasakan bahwa hati atau batin kita lebih bahagia dari sebelumnya. Kebaikan diri dalam ibadah lebih baik dari sebelumnya, misalnya, itu juga bagian dari hijrah batiniyah.
Perintah hijrah ke Madinah disampaikan Allah SWT melalui surah Al-Baqarah ayat 218:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢١٨
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Momentum Muhasabah
Di atas telah disinggung bahwa Tahun Baru Hijriyah 1447 H dijadikan kesempatan untuk introspeksi diri. Karena dengan cara menilai diri sendiri kita dapat mengetahui apa yang telah kita lakukan di satu tahun yang telah lalu. Kemudian kita harus berpikir logis, bahwa kebaikan harus kita tingkatkan dan keburukan mesti kita perbaiki.
