Murid Baru

“Baiklah. Terima kasih. Sekarang silakan pelajari terlebih dahulu pelajaran selanjutnya. Saya cek dulu satu per satu tugas kalian,” ucap guru berkumis tipis di depan kelas.

Beberapa saat Pak Karim meneliti semua hasil pekerjaan rumah siswa-siswinya. Satu per satu buku tugas yang bersampul seragam cokelat itu dibuka. Sesekali bibir itu membentuk senyuman sempurna. Namun, tak jarang dahinya juga berkerut dan menggeleng-geleng sejenak menandakan masih ada anak didiknya yang belum paham dengan selama ini yang diterangkannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ini sudah saya nilai semua. Tolong ambil dan bagi yang nilainya masih di bawah lima puluh harus tetap di kelas, mengerjakan tugas di halaman 35 buku paket. Tidak boleh istirahat sebelum selesai.”

Pak Karim memberi instruksi sebelum beberapa menit bel waktu istirahat berbunyi.

Lintang melirik Fielda. Ternyata Fielda bebas dari hukuman, lalu dia keluar untuk istirahat. Sementara itu, Lintang harus tetap duduk di posisi sebelumnya untuk mengerjakan tugas dari Pak Karim.
“Ih, sombong kali anak baru itu. Kok, bisa dia lolos,. Awas nanti akan aku kerjai dia,” kata Lintang dalam hati. Dia semakin tertantang untuk menaklukkan Fielda.

***
“Lintang, tolong bawa baju-baju yang sudah Ibu jahit itu ke rumah di ujung desa sana, ya,” titah Bu Darmi, ibunya Lintang yang berprofesi sebagai penjahit baju.

“Loh, biasanya disetor ke Wak Welni, Bu. Sekarang kenapa ke ujung desa?” tanya gadis yang sedang menonton televisi.

“Sudah, ikuti saja Ibu. Wak Welni itu hanya tangan kanan bos Ibu, sedangkan bos Ibu baru saja pindah ke sini dan tinggal di rumah baru yang di ujung sana. Hati-hati bawanya, ya. Banyak itu.”

“Iya, Bu,” balas Lintang dengan malas. Lantas, dia menuju ruang tengah mengambil barang yang diperintahkan ibunya.

Lintang mengayuh sepedanya santai menuju rumah yang dimaksud ibunya. Walaupun di sekolah dia selalu usil dan jahil, tetap saja urusan Ibu dia tak bisa menolak dan membangkang. Sebab, Lintang masih sadar bahwa surga itu di telapak ibu. Kalau sekali saja durhaka, surganya akan hilang. Tepat di rumah berlantai dua, Lintang memarkirkan sepedanya di bawah pohon matoa yang ada di halaman rumah itu.

“Wah, pantas saja bos konveksi. Rumahnya bagus dan luas,” lirihnya seraya mengambil barang yang akan disetor ke rumah itu.

Baru beberapa langkah Lintang menuju pintu rumah itu, tiba-tiba ada Fielda keluar dari rumah itu. Seketika Lintang terpaku beberapa saat.

Tinggalkan Balasan