“Lintang!” teriak Fielda beberapa kali.
“Eh, iya. Kamu kenapa keluar dari rumah ini?” tanya Lintang dengan nada agak gugup, melangkah mendekati Fielda.

“Ini, kan, rumahku. He-he-he. Kamu mau setor jahitan?” tanya Fielda sembari pandangannya mengarah ke barang bawaan Lintang.
“I—iya.”
“Ya, sudah masuk saja langsung. Di sana ada karyawan ibuku yang menerima. Aku tinggal dulu, ya, mau ke warung dulu sebentar ibuku menyuruh beli kerupuk tadi.”
Fielda berlalu meninggalkan Lintang. Akan tetapi, baru beberapa langkah Lintang menghentikan langkah teman barunya itu.
“Tunggu, Fielda!” Suara Lintang agak tinggi supaya Fielda yang sudah agak jauh mendengarnya.
“Ada apa, Lin?” Fielda mengerutkan dahi, alisnya menyatu.
“Anu. Maafkan aku, ya. Semenjak kamu datang aku sudah berniat tidak baik denganmu. Aku jahilin kamu,” jelas Lintang meski agak ragu.
“Oh, berarti yang memasukkan boneka cecak di tasku itu kamu?”
Lintang hanya mengangguk, pandangannya ke bawah. Dia tak sanggup menatap lawan bicaranya.
“Ya, sudah enggak pa-pa santai aja. Oh, ya aku harus cepat ini. Sudah ditunggu ibuku soalnya. Aku duluan, ya,” balas Fielda dengan santai. Lantas, segera berlari kecil menjauh dari Lintang saat ingat pesanan ibunya.
“Iya, Fielda. Mulai sekarang aku berjanji pada diriku sendiri supaya tidak lagi mengganggu orang lain,” lirih Lintang dengan melanjutkan kembali langkahnya menuju rumah Fielda.
