Musala Kiai Misbach

“Musala kita ini besar, megah, dan sangat nyaman; dingin dan tidak berdesak-desakan. Namun sekarang, sudah berbalik arah. Hanya kita, Gus Fadil, dan beberapa orang saja yang terlihat. Hanya satu saf saja.” tambah Kang Basori.

“Masyarakat memang sudah mulai kurang iman, kurang syukur. Sedikit sekali suara dzikir, khataman, atau sholawatan,” ucap Kang Rahmat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Sudahlah, kita bakar saja musala ini!” tetiba Gus Fadil yang datang dari arah belakang berkata demikian, lalu berlalu begitu saja.

Kami bertiga pun akhirnya terdiam. Semakin sunyi lagi musala ini. Dalam hati, kami tidak akan menumpahkan lagi kegusaran kami tentang musala ini. Kalau pun terpaksa harus berbagi cerita, mungkin sebaiknya di luaran sana. Kami pun mencari tempat masing-masing untuk tidur di musala itu.

***
Bau menyengat mulai menyeruak dari dalam musala. Kami berusaha mencari sumber bau. Kami berpencar agar segera menemukan muasal bau itu. Ya, di belakang musala. Seseorang telah mengalirkan minyak tanah di beberapa penjuru musala. Di dekat pagar, sudah tergambar obor yang menyala-nyala.

“Minyak sebanyak itu disebarkan di seluruh musala dan bahkan obor sudah menyala. Kelakuan siapa ini?” Kang Basori berteriak begitu lantangnya.

“Keluar kau bedebah. Terlaknat kau!” teriakan Kang rahmat menimpali.

“Tidak ada gunanya lagi mempertahankan apa yang tidak memungkinkan lagi. Biarlah tempat ini mati daripada semakin sunyi!” ucap lelaki berpenutup kepala yang hendak membakar musala.

“Siapa kamu laki-laki berpenutup kepala itu?” dengan garang Kang Basori menantang.

Tiba-tiba, lelaki itu menunjukkan wajahnya. Hati kami seolah tak bisa menerima. Orang yang selama ini mereka percaya hendak memusnahkan tempat yang telah ia bangun dengan keringatnya sendiri. Gila atau hilang akal itulah yang dipikirkan mereka. Tapi yang jelas musala sedang dalam bahaya. Siaga 1.

“Kau tidak perlu mengajariku apa yang benar dan yang salah. Siapa kamu hingga berani melawanku?” ujar Gus Fadil dengan nada menantang.

Tinggalkan Balasan