Musala Kiai Misbach

“Mohon Gus Fadil tidak menambah masalah dengan masalah baru! ” kataku memohon padanya.

“Inilah caraku. Kau masih berani menentangku?” sahut Gus Fadil dengan tegas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kami tak pernah menyangka Gus Fadil yang merupakan panutan hendak membakar musala. Secara tidak langsung, musala megah ini juga milik Gus Fadil yang merupakan putra Kiai Misbach. Iblis mana yang sedang merasuki akal pikirannya. Sontak saja kami tak berani melawan guru yang mungkin telah kehilangan kesadaran tersebut. Tapi, kami harus memadamkan obor itu apa pun yang terjadi.
Gus Fadil tak bisa dicegah. Kami juga bukan siapa-siapa dan tidak sebanding dengan Gus Fadil. Obor dilemparkan vertikal ke arah udara. Langit yang pekat pun nampak bercahaya.

Kang Bashori berlari menuju tempat wudlu. Ia ambil timba hingga terisi air. Kang Bashori segera berlari menuju penjuru musala yang telah disiram minyak tanah. Aku dan Kang Rahmat pun mengikutinya. Tapi, api membakar semua begitu cepatnya. Reruntuhan bangunan mengenai tubuh kami. Kami bertiga tetap bertahan untuk membuang ke luar. Kobaran api menjilati tubuh kami.

***

“Rahmat, Bashori, Nurudin bangun. Sebentar lagi Shubuh,” tetiba Gus Fadil membangunkan kami.
Kami langsung beranjak menuju tempat wudlu. Kang Bashori langsung berwudlu, menabuh beduk, dan mengumandangkan adzan. Sepuluh menit berlalu, Kang Bashori iqomah dengan tetap tidak ada penambahan jemaah.

“Aku ini masih hidup apa sudah mati ya?” kataku pelan kepada Kang Rahmat.

“Iya Din, aku juga bingung. Sepertinya kita semua sudah mati terbakar tadi,” jawab Kang Rahmat. Kami memilih untuk menutup cerita itu dalam-dalam. Minimal tak lagi membahas cerita kami di Musala Kiai Misbach. Takut sesuatu yang di luar nalar terjadi lagi.

“Sepertinya itu tadi adzan terakhirku di musala ini. Setelah itu, aku tidak akan ke sini lagi,” kalimat terakhir Kang Bashori semakin mengangetkan kami.

Aku semakin bingung memaknai semua ini. Kami saling terdiam sebelum pulang menuju rumah masing-masing. Kami tak saling bicara; apalagi berandai-andai akankah nanti ke tempat ini lagi. Atau jangan-jangan kami sudah mati?

Tinggalkan Balasan