Musik sebagai Jalan Keluar Sikap Fanatisme

Sebagai contoh, lagu yang berjudul Orang-Orang di kerumunan karya band rock lokal Fstvlst. Menurut hemat penulis, lagu ini memiliki maksud yang bernuansa untuk menyatukan perbedaan, yang dapat kita jadikan sebuah jawaban dalam menghadapi perbedaan.

Belajar Keragaman dari Musik

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lagu Orang-Orang di kerumunan karya band rock lokal Fstvlst itu dapat kita hayati dari lirik ke lirik. Liriknya bisa membuat kita sadar akan masifnya kebencian yang lahir karena perbedaan, baik berbeda dalam agama, suku, aliran, bahkan juga kubu politik. Demikianlah liriknya:

Orang-orang di kerumunan berjejalan di lingkaran
Mengitari satu altar sesembahan
Mereka menari dengan mata terpejam, kerasukan
Jiwanya sudah tak lagi bersemayam

Lalu meracau, tak setuju maka beda kubu
Tak sepaham lantas baku hantam
Yang seiman saling menerakakan

Merekalah kerumunan yang lupa
Kerumunan yang lupa
Bahwasanya aku kau mereka sama
hanya manusia, sama manusianya, yang seharusnya.

Lirik tersebut merupakan fenomena nyata yang kita hadapi. Mereka yang tak setuju berujung beda kubu. Mereka yang tak sepaham berujung baku hantam. Bahkan, yang seiman pun saling mengkafirkan. Seakan mereka merasa dengan kesalehan ritualnya, surga berada di genggamannya. Dan seakan mereka lupa justru menghormati sesama juga sebagai bentuk kesalehan yang bernuansa sosial. Hal itu yang dalam sindiran Gus Mus bahwa “kita masih primitif dan ndeso dalam beragama” (Zaini, 2018).

Dalam lirik selajutnya terdapat makna yang sebagai isyarat, bahwa kita dan mereka sama-sama manusia yang seharusnya saling sayang dan berbagi kebahagiaan. Tak melihat siapa dan aliran apa yang mereka anut, yang kebahagiaannya juga kebahagiaan kita dan dukanya pun duka kita.

Tinggalkan Balasan