Musik sebagai Jalan Keluar Sikap Fanatisme

Dalam hemat saya, lirik tersebut memiliki arti yang senada dengan pemahaman mainstream kita bahwa keimanan seseorang dapat diukur dengan kecintaan terhadap orang lain seperti mencintai dirinya sendiri.

Di samping itu juga, sikap nerimo, legowo dan menghormati antarsesama merupakan buah output yang lahir dari transformasi kesalehan ritual ke kesalehan sosial. Berikut ini liriknya:

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saling peluk selayak saudara
Saling jaga seperti keluarga
Berbagi cinta berbagi bahagia
Menjauhi kerumunan yang lupa
Kerumunan yang lupa
Bahwasannya aku, kau, mereka

Turut berbela sungkawa atas sekaratnya jiwa
Para berkerumun tertawa-tawa
S-s-sempitnya ruang bahagia
Yang seharusnya luas tak terbatas

Dan turut berduka cita, atas tak berartinya bunga
Terganti umpat benci, caci maki, bunuh dan lukai, benci dan lukai.

Dengan begitu, sikap terbuka sangatlah penting bagi kita, karena pengetahuan dan kebenaran bukan hanya datang dari ruang formal, melainkan datang dari berbagai arah. Sebaliknya, mereka yang bersikap anti liyan dan hanya membenarkan dirinya, semua itu merupakan akibat dari sikap menutup diri yang tentu jelas lebih awal untuk menolak kalangan lain.

Pendeknya, tulisan ini sebagai refleksi kita bahwa mengakarnya sikap fanatisme dapat meruntuhkan sebuah kekuasaan pada zaman dulu. Hal serupa dapat terjadi kini dan di sini jika fanatisme terus dilanggengkan.

Tinggalkan Balasan