Muslihat Mustafa

“Ada apa? Pagi-pagi sudah rebut-ribut.”

“Begini Kak Mustafa, tadi sebelum saya berangkat ke musala untuk salat berjemaah, saya mendengar suara-suara aneh di belakang rumah, tapi saya tak sempat menengoknya, karena muazin sudah keburu mengumandangkan ikamah.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Lantas, apakah yang menjadi permasalahan?”

“Sepulang dari musala, saya ke rumahnya Nom Mardi untuk mengambil HP saya yang ketinggalan tadi malam. Karena saya cukup lama di rumah Nom Mardi, sesampai di rumah waktu sudah agak pagi, dan ketika mengunjungi kandang, sapi saya sudah tak ada. Dan saya yakin Madruki pencurinya.”

“Kenapa kamu yakin bahwa Madruki adalah pencurinya? Ada bukti apa?”

“Saya menemukan gelang Madruki tersangkut di bilik kandang sapi. Gelang seperti itu memang hanya Madruki yang punya,” jawab Hamid dengan memamerkan gelang yang ditemukan. “Kak  Sa’edi juga berpapasan dengan Madruki ketika hendak berangkat ke musala, dan Madruki mengarah ke rumah saya.”

Mustafa berhenti sejenak. Pandangannya kosong. Sedang semua warga ingin mendobrak pintu rumah Madruki. Karena dari tadi panggilan-panggilan dan gedoran pintu yang meminta Madruki untuk keluar tak ada respons sama sekali.

“Begini saja, tunggu sampai nanti sore. Jika sapimu belum kembali, aku yang akan menggantinya,” pinta Mustafa pada Hamid. “Percayalah.”

“Baiklah, karena sampeyan salah seorang yang dapat dipercaya di kampung ini, saya peercaya pada sampeyan. Dan saya pegang omongan sampeyan,” jawabnya. “Tapi jika sampai sore sapi saya belum kembali, saya akan mendobrak pintu rumah Madruki, dan sampeyan akan tanggung jawab.”

“Terima kasih, sudah mempercayaiku.”

Hiruk-pikuk mulai reda. Diredam pinta Hamid untuk tidak mencipta suara-suara ingar-bingar.

***

Tinggalkan Balasan