Ayah Azami sangat membenci penjajah dan bahasa Inggris. Sebab itu dia mengarahkan putranya untuk memilih Sekolah Islam. Di Sekolah Islam inilah Azami mulai mempelajari hadis dengan para ulama yang mumpuni.
Setelah menyelesaikan Sekolah Islam, Azami melanjutkan studinya di College of Science Darul Uluum Deobandi dan selesai pada 1952. Kemudian dia pergi ke Mesir dan masuk ke Universitas Al-Azhar, Kairo dengan mengambil kosentrasi tadris atau pengajaran di Fakultas Bahasa Arab. Dia menyelesaikan studinya pada 1955 dan mengantungi ijazah Al-Alimiyah lalu kembali ke kampung halamanya India.

Setahun keudian, dia diangkat menjadi dosen Bahasa Arab di Qatar. Dia mengajar orang-orang non-Arab. Kemudian pada 1964 dia melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Cambridge Inggris dengan judul disertasi Studies in Early Hadith Literature with A Critical Edition of Some Early Texts (Kajian tentang Literature Hadis Masa Dini dengan Kritik-edit Sejumlah Naskah Kuno).
Setelah selesai doktornya dia kembali jadi dosen di Qatar. Namun, tak berselang lama dia mengundurkan diri dan pidah ke Mekkah untuk mengajar Pasca Sarjana di Universitas King ‘Abdul Al- Aziz atau sekarang lebih dikenal dengan Universitas Umul Qura. Pada tahun 1973 dia pindah ke Riyadh dan mengajar Pasca Sarjana di Universitas Riyadh.
Di kota Riyadh inilah karier intlektual Azami mencapai klimaknya. Hal ini dibuktikan dengan perolehan hadiah Internasional King Faisal dalam Studi Islam. Kini dia menjadi Guru Besar Ilmu Hadis di Universitas Riyadh.
Azami wafat lima tahun yang lalu, tepatnya 20 Desember 2017 dengan mewariskan beberapa karya tulis dan pemikiran-pemikran cemerlangnya.
Membabat Teori Orientalis
